Diskusi FWK: Kesantunan Berbahasa Diperlukan dalam Berbangsa dan Bernegara

- Editor

Kamis, 6 Agustus 2026 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) saat diskusi yang berlangsung di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) saat diskusi yang berlangsung di Jakarta, Rabu (5/8/2026).


JAKARTA, tujuhmenit.com,- Kesantunan berbahasa dalam komunikasi tetap diperlukan dalam berbangsa dan bernegara untuk menjaga kebersamaan, keharmonisan, dan ketenangan bersama.


Kesantunan berbahasa harus tetap dijaga, jangan sampai jatuh ke dalam situasi komunikasi yang tidak beradab, barbar. Zaman barbar sudah berlalu ketika manusia belum mengenal etika dan hukum.

Demikian benang merah hasil diskusi Reboan Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) yang berlangsung di Jakarta, Rabu (5/8/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam diskusi yang dihadiri sejumlah wartawan senior dipimpin oleh Koordinator Nasional FWK, Raja Parlindungan Pane. Diskusi menyoroti berbagai masalah kekinian yang menjadi keprihatinan bersama.

Dalam diskusi yang juga dihadiri pendiri FWK, Hendry Ch. Bangun mantan Wakil Ketua Dewan Pers, materi diskusi yang paling menjadi sorotan adalah penggunaan bahasa dalam berkomunikasi, baik yang dilakukan Presiden RI Prabowo Subianto maupun masyarakat yang memberi tanggapan terbuka di berbagai aplikasi media sosial.

Penggunaan bahasa di media sosial belakangan ini dinilai oleh forum diskusi, sudah kebablasan. Kata-kata yang tidak pantas, seperti makian, umpatan, dan hinaan bertebaran dalam postingan-postingan, meme-meme, unggahan video, maupun komentar-komentar atas unggahan-unggahan tentang berbagai hal, terutama reaksi atas ucapan atau pidato Presiden RI Prabowo Subianto di luar teks resmi pidato.

Dalam diskusi tersebut, Pemimpin Redaksi VOI.ID Iqbal Irsyad mengatakan, reaksi keras dan kasar menanggapi ucapan presiden yang dinilai tidak akurat semakin menjadi-jadi. Terakhir mengenai sebuah usaha penggilingan padi yang dikatakan presiden mendapat keuntungan dua triliun rupiah dalam satu kali musim panen.

“Kemudian soal tudingan presiden terhadap wartawan, LSM, dan pengamat sebagai londo ireng,” kata Iqbal yang juga mantan Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.

Baca Juga  Israel Cegat Misi Kemanusiaan ke Gaza, PWI Pusat Kecam Penahanan Jurnalis Indonesia

Hendry Ch. Bangun berpendapat, di tengah situasi seperti sekarang ini diperlukan komunikasi publik yang dapat mendinginkan suasana. Kalau dibiarkan seperti sekarang ini, akan berakibat buruk dan tidak menguntungkan semua pihak, baik untuk negara maupun bangsa.

“Negeri ini tidak kekurangan orang hebat dalam mengelola kompleksitas dalam berkomunikasi publik. Angkat lah mereka itu guna mendinginkan suasana dan mengatasi kekisruhan akibat komunikasi yang kurang tepat,” tutur Hendry, mantan wartawan senior senior Harian Kompas.

Menurut Hendry CH Bangun dalam diskusi tersebut, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon sebaiknya masuk dalam lingkaran dalam presiden. “Sehingga kualitas komunikasi pemerintah semakin berbobot,” kata Hendry.

Semua peserta rapat sepakat Fadly Zon masuk lingkaran dalam presiden. Tujuannya untuk menambah bobot komunikasi pemerintah kepada masyarakat. Munculnya nama Fadli Zon terkait dengan akan adanya reshuffle kabinet dalam waktu dekat.

Raja Parlindungan Pane, wartawan senior dan pemimpin redaksi peserta diskusi Yesayas Octavianus, Budi Nugraha, Umy Syarifah, Herwan Pebriansyah, Dadang Rachmat, Berman Nainggolan L Radja, dan Rudy Sitompul sepakat dengan apa yang disampaikan Hendry dalam diskusi.

“Kita di FWK harus ikut mendukung penyelesaian rumitnya persoalan negeri ini. Kita sudah berkali-kali membahas tentang komunikasi. Sekali lagi kita sampaikan kritik dan masukan kita untuk kebaikan,” kata Raja Pane.

Mantan wartawan Harian Kompas, Mohammad Nasir, yang hadir dalam diskusi ini juga berpendapat, bahwa komunikasi dengan menggunakan tutur kata yang santun mutlak diperlukan, supaya dapat mewujudkan kebersamaan dan saling percaya.

Sementara itu Berman Nainggolan berpendapat, dalam situasi ekonomi sulit ini, perlu kehati-hatian dan keakuratan pemerintah dalam menyampaikan kebijakannya kepada masyarakat.

“Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang sejuk dan nyaman. Sehingga masyarakat tidak bertambah bingung,” ujar Berman.***

Berita Terkait

Ahmad Khozinudin: Gawat! UU Perampasan Aset Diekstensifikasi Menyasar Ke Semua Orang
Syukur Mandar: Ada Penjajah Yang Lebih Berbahaya dari Penjajah Yang Telah Diusir
FWK: Negara Jangan Jadikan Bank Alat Represif
FWK Kecam Penurunan Bendera Merah Putih di Banda Aceh
Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: FWK Ingatkan Agar Pemerintah Peka Terhadap Keresahan Masyarakat
Cacat Kelola Tingkat Dewa! Sebagian Besar Pemda Tidak Bisa Bayar Gaji ASN?
Kabinet Bayangan: Indonesia Darurat Korupsi Secara Struktural dan Sistemik
Karumga Mantan Jampidsus Kejagung Ditemukan Tewas dengan Mulut Berbusa

Berita Terkait

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 13:53 WIB

Syukur Mandar: Ada Penjajah Yang Lebih Berbahaya dari Penjajah Yang Telah Diusir

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:21 WIB

FWK: Negara Jangan Jadikan Bank Alat Represif

Minggu, 16 Agustus 2026 - 13:23 WIB

FWK Kecam Penurunan Bendera Merah Putih di Banda Aceh

Kamis, 13 Agustus 2026 - 09:59 WIB

Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: FWK Ingatkan Agar Pemerintah Peka Terhadap Keresahan Masyarakat

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 10:38 WIB

Cacat Kelola Tingkat Dewa! Sebagian Besar Pemda Tidak Bisa Bayar Gaji ASN?

Kamis, 6 Agustus 2026 - 09:09 WIB

Diskusi FWK: Kesantunan Berbahasa Diperlukan dalam Berbangsa dan Bernegara

Jumat, 31 Juli 2026 - 09:17 WIB

Kabinet Bayangan: Indonesia Darurat Korupsi Secara Struktural dan Sistemik

Senin, 27 Juli 2026 - 09:10 WIB

Karumga Mantan Jampidsus Kejagung Ditemukan Tewas dengan Mulut Berbusa

Berita Terbaru

Hampir 2.000 orang diduga keracunan setelah menyantap menu MBG sejak Selasa (01/9/2026) hingga Kamis (03/9/2026). Foto: Ilustrasi

Peristiwa

Dilematis, Dalam Waktu 3 Hari 2 Ribu Orang Keracunan MBG

Minggu, 6 Sep 2026 - 05:46 WIB