Dari Saluran Air Jadi Berkah: Ketika Warga Belajar dari Aliran Air
“Inovasi tidak selalu berkaitan dengan teknologi canggih, tetapi lebih pada jiwa yang peka dalam mengenali kesempatan di sekitar kita.” — Taufiq Supriadi
Oleh Karnita
Saluran yang Bercahaya di Tengah Kota Saluran yang Menyala di Tengah Kota Saluran yang Terang di Pusat Kota Saluran yang Bersinar di Tengah Kota Saluran yang Berkilau di Tengah Kota Saluran yang Mengeluarkan Cahaya di Tengah Kota Saluran yang Berpendar di Tengah Kota Saluran yang Menyala di Tengah Kota Saluran yang Bercahaya di Tengah Kota Saluran yang Menyala di Tengah Kota
Siapa sangka, di tengah padatnya permukiman beton Jakarta, justru sebuah saluran air bisa menjadi sumber harapan baru? Pada 6 November 2025, Kompas.com merilis laporan dengan judul “Inovasi Ketua RT di Duren Sawit, Ubah Selokan Jadi Sumber Penghasilan” karya Febryan Kevin dan Abdul Haris Maulana. Berita ini langsung menarik perhatian, karena memperkenalkan sosok Ketua RT, Taufiq Supriadi, yang berhasil mengubah parit lingkungan menjadi kolam ikan yang produktif.
Mengapa gagasan sederhana ini terasa begitu mengganggu di tengah kota besar? Karena ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah pada situasi yang ada. Ketika ruang hijau berkurang dan sungai kehilangan maknanya secara ekologis, seorang penduduk justru menemukan cara untuk membangkitkan air sebagai sumber kehidupan, bukan sebagai sumber masalah.
Penulis tertarik dengan cerita ini tidak hanya karena sifat inovasinya, tetapi juga karena maknanya yang mendalam dalam konteks sosial. Pada saat banyak wilayah mengeluhkan banjir dan pencemaran, Taufiq menunjukkan bahwa dengan sedikit kreativitas, saluran air dapat diubah menjadi alat ekonomi dan jaminan pangan bagi masyarakat. Ini adalah gambaran kecil tentang bagaimana kepemimpinan lokal mampu memberikan contoh yang bisa diikuti secara nasional.
Inovasi yang Muncul Akibat Keterbatasan
Saat lahan terbatas, pikiran harus lebih luas. Taufiq Supriadi menyadari bahwa lingkungannya di Duren Sawit tidak lagi memiliki lahan kosong untuk berkebun. Ia pun memandang ke bawah—ke arah saluran yang biasanya dihindari orang. Terinspirasi dari sistem saluran air di Tokyo dan metode serupa di IPB, ia membuat kolam lele di atas saluran air yang bertingkat.
Proyek tersebut bukan hanya sekadar pengembangan teknis, tetapi wujud keberanian dalam berpikir di luar biasa. Dengan menggunakan beton U-Ditch dua tingkat, bagian atas digunakan sebagai tempat ikan, sedangkan bagian bawah tetap berfungsi sebagai saluran air. Akibatnya, air tetap mengalir, lingkungan tetap terjaga kebersihannya, dan perekonomian masyarakat ikut berkembang.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Inilah wujud kearifan lokal yang berubah menjadi inovasi lingkungan. Ia bukan hanya meniru model asing, tetapi menyesuaikannya dengan kondisi kota. Dalam situasi perubahan iklim dan tantangan pangan global, tindakan kecil Taufiq menjadi simbol pentingnya kemandirian masyarakat. 2. Bentuk kearifan tradisional ini berkembang menjadi solusi ekologis. Tidak hanya meniru sistem luar negeri, tetapi disesuaikan dengan realitas perkotaan. Di tengah isu perubahan iklim dan krisis pangan dunia, langkah kecil Taufiq mencerminkan makna besar tentang kemandirian penduduk. 3. Ini adalah contoh kearifan lokal yang bertransformasi menjadi inovasi ramah lingkungan. Ia tidak sekadar menyalin model asing, melainkan menyesuaikan dengan kondisi kampung kota. Dalam situasi perubahan iklim dan krisis pangan global, tindakan kecil Taufiq menjadi representasi pentingnya kemandirian warga. 4. Keberadaan kearifan lokal ini berubah menjadi inovasi lingkungan. Bukan hanya meniru model luar, tetapi disesuaikan dengan realitas kota. Dalam konteks perubahan iklim dan krisis pangan global, tindakan kecil Taufiq menjadi gambaran tentang pentingnya kemandirian masyarakat. 5. Berikut bentuk kearifan lokal yang berubah menjadi inovasi lingkungan. Ia tidak hanya meniru model asing, tetapi menyesuaikan dengan kondisi kampung kota. Dalam situasi perubahan iklim dan krisis pangan global, langkah kecil Taufiq menjadi cerminan pentingnya kemandirian warga.
Kolam Lele, Kolam Harapan
Dari sebuah kolam dengan ukuran 14 meter, Taufiq mampu memperoleh sekitar 800 kilogram lele setiap musim panen. Dalam satu tahun, empat kali panen dapat menghasilkan hingga Rp80 juta. Angka ini mungkin terlihat kecil bagi perusahaan besar, namun sangat berarti bagi komunitas yang berawal dari semangat kerja sama.
Selain menguntungkan, sistem ini juga adil. Hasil panen dibagi kepada berbagai pihak: kelompok tani, pengelola kolam, pemilik rumah, hingga dana RT dan RW. Pembagian yang jelas ini membuat kolam lele menjadi ruang partisipasi—sebuah bentuk ekonomi berbasis masyarakat yang memperkuat rasa memiliki bersama.
Pengembangan ini juga menciptakan peluang kerja bagi para pensiunan dan penganggur di sekitar. Mereka bukan hanya bertugas sebagai “pengawas ikan”, tetapi sebagai penjaga semangat bersama. Dalam masyarakat perkotaan yang sering terpisah dari rasa solidaritas, model semacam ini mengembalikan makna pentingnya kebersamaan.
Dari Kolam Ikan Lele ke Kolam Nutrisi
Tidak hanya berhenti pada keuntungan ekonomi, Taufiq melangkah lebih jauh dengan menyediakan kolam pangan bagi masyarakat. Di tempat ini, ikan nila dan bawal dibudidayakan khusus untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak dan lansia. Warga diperkenankan mengambil ikan secara gratis saat panen, selama menggunakan kebijaksanaan dan sesuai ketentuan yang berlaku.
Tindakan ini merespons masalah penting: pertumbuhan yang terhambat dan ketidakseimbangan nutrisi di daerah perkotaan. Melalui inovasi sederhana, RT 08 RW 04 Duren Sawit mampu menghubungkan isu lingkungan, ekonomi, dan kesehatan dalam satu sistem kecil. Kolam menjadi simbol kehidupan yang terpadu—air yang mengalir membawa keuntungan sekaligus gizi.
Jika kebijakan publik sering kali terlambat, warga seperti Taufiq menunjukkan bahwa perubahan bisa dimulai dari lingkungan sekitar. Ia tidak menunggu proyek pemerintah, tetapi memberikan solusi yang berlandaskan empati dan tindakan nyata.
Air Tak Sekadar Mengalir
Ada hal menarik dalam proyek ini: selama 22 tahun, wilayah tersebut tidak pernah terkena banjir. Taufiq memastikan desain dua lantai tidak menghalangi alur air. Saat hujan lebat, ketinggian air hanya naik 3–4 sentimeter—sebuah bukti bahwa ekologi dan ekonomi dapat berdampingan tanpa saling merugikan.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Pesan tersembunyi dalam kisah selokan Duren Sawit menggambarkan bahwa air tidak hanya menuju laut, tetapi juga mencapai hati manusia yang bersedia belajar dari alam. Dengan tangan orang bijak, selokan bisa menjadi tempat pengamatan sosial-ekologis. 2. Makna tersirat dari kisah selokan Duren Sawit menunjukkan bahwa air tidak hanya mengalir ke laut, tetapi juga sampai pada jiwa manusia yang ingin belajar dari alam. Di tangan seseorang yang cerdas, selokan dapat berubah menjadi laboratorium sosial-ekologis. 3. Pesan yang tersirat dari kisah selokan Duren Sawit adalah bahwa air tidak hanya mengalir ke laut, tapi juga masuk ke dalam hati manusia yang ingin belajar dari alam. Dengan pandangan yang tajam, bahkan selokan bisa menjadi pusat studi sosial-ekologis. 4. Dari kisah selokan Duren Sawit, tersirat pesan bahwa air tidak hanya menuju laut, tetapi juga sampai ke hati manusia yang mau belajar dari alam. Orang yang bijak mampu menjadikan selokan sebagai laboratorium sosial-ekologis. 5. Makna yang terkandung dalam kisah selokan Duren Sawit ialah air tidak hanya mengalir ke laut, tetapi juga sampai ke hati manusia yang bersedia belajar dari alam. Dengan pikiran yang cerdas, selokan bisa menjadi tempat eksplorasi sosial-ekologis.
Taufiq tidak hanya membangun kolam, tetapi juga menciptakan harapan. Ia mengalirkan air kehidupan yang selama ini kita anggap kotor menjadi sumber penghidupan, sumber makanan, dan sumber nilai.
Menjaga Aliran Harapan
Saat banyak orang mengabaikan masalah, Taufiq justru membuka pikirannya untuk mencari solusi. Dari saluran air kecil di Jakarta Timur, lahir sebuah inisiatif sederhana yang mampu menyentuh banyak jiwa. Ia tidak menunggu bantuan besar, tetapi memulai dari langkah kecil yang memiliki makna besar.
Air yang mengalir tidak pernah menanyakan ke mana arahnya; ia hanya memahami bahwa tujuannya adalah memberikan kehidupan.
Semoga melalui kisah kecil ini, semakin banyak warga yang berani menghidupkan ide-ide di lingkungan masing-masing. Karena pada dasarnya, masa depan Indonesia tidak selalu ditentukan oleh kebijakan pusat, tetapi oleh aliran kreativitas kecil yang terus-menerus mencari jalan.
Disclaimer
Artikel ini disusun berdasarkan laporan Kompas.com (6 November 2025) serta pemahaman penulis mengenai dampak sosial-inovatifnya.
Daftar Pustaka
Candra Kurniawan, F. K., & Maulana, A. H. (2025, 6 November). Inovasi Kepala RT di Duren Sawit, Mengubah Saluran Air Menjadi Sumber Penghasilan. Kompas.com.https://megapolitan.kompas.com/read/2025/11/06/08113041/langkah-inovatif-ketua-rt-di-duren-sawit-sulap-selokan-jadi-sumber-rezeki?page=allKompas.id. (2025). Pengelolaan Sendiri Pembaruan Sekolah Berdampak terhadap Masyarakat.https://kompas.idKementerian PUPR. (2024). Panduan Desain Saluran Air Perkotaan Berkelanjutan. Jakarta: Direktorat SDA.IPB University. (2023). Budidaya Ikan dalam Sistem Sirkulasi Tertutup. Bogor: IPB Press.PAM Jaya. (2025). Laporan Tahunan Ketahanan Air Jakarta 2025.https://pamjaya.co.id






