Heboh 3I/ATLAS, Ini Fakta ‘Alien’ Menurut Sains dan Ulama

- Penulis

Minggu, 30 November 2025 - 12:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AdinJava.CO.ID,JAKARTA – Kehadiran benda antariksa 3I/ATLAS mengejutkan komunitas astronomi global. Benda langit yang mirip komet tetapi tidak sesuai dengan ciri-ciri umumnya memicu teori bahwa benda tersebut merupakan kendaraan dari planet lain di luar Tata Surya.

Sampai saat ini, setelah 3I/Atlas melewati titik terdekatnya dari Matahari, benda tersebut akan berbalik arah dan kembali meninggalkan Tata Surya. Ilmuwan masih mencoba memperkirakan apa sebenarnya benda yang memiliki panjang hingga puluhan meter itu.

Beberapa ilmuwan, seperti profesor Harvard, Avi Loeb, mengusulkan bahwa 3I/ATLAS mungkin merupakan alat pemantau yang dikirimkan oleh peradaban di planet lain. Jadi, bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap kemungkinan adanya peradaban atau makhluk hidup di luar bumi?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perlu dipahami terlebih dahulu, kehidupan di luar Bumi dalam pikiran para astronom tidak selalu mirip dengan yang ada di film-film Hollywood. Mereka bukan makhluk menakutkan seperti yang digambarkan dalam film-film yang pernah mengunjungi Bumi.

Baru-baru ini, teori mengenai kehidupan di planet lain semakin berkembang karena jumlah besar planet di luar Tata Surya atau exoplanet yang telah terdeteksi oleh berbagai teleskop canggih seperti Hubble dan James Webb.

Komet antarbintang 3I/ATLAS terlihat melewati tata surya pada 27 Agustus 2025, yang diabadikan oleh teleskop Gemini South di Chili. – (International Gemini Observatory/NOIRLab)

Sampai saat ini, jumlah exoplanet yang secara resmi tercatat oleh NASA dan badan antariksa di berbagai belahan dunia telah mencapai 6.000 sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1995. Terdapat lebih dari 8.000 kandidat planet lainnya yang masih menunggu verifikasi.

Dari jumlah tersebut, sekitar 60 exoplanet diperkirakan memiliki kondisi mirip Bumi dan mampu mendukung kehidupan. Berdasarkan informasi dari space.com, sebuah planet dianggap memiliki potensi ramah terhadap kehidupan jika ukurannya relatif kecil dan berbatuan, serta mengorbit di dalam zona layak huni atau zona “Goldilocks” bintangnya.

Wilayah ini secara umum diartikan sebagai area di mana air bisa berada dalam bentuk cair di permukaan suatu planet. Dengan berkembangnya teknologi teleskop, faktor-faktor tambahan seperti komposisi atmosfer planet dan tingkat aktivitas bintang yang mengelilinginya juga mulai dipertimbangkan.

Beberapa exoplanet yang dianggap paling berpotensi untuk dihuni oleh makhluk hidup antara lain Gliese 667Cc (berjarak 22 tahun cahaya dari Bumi), Kepler-22b (600 tahun cahaya dari Bumi), Kepler-69c (2.700 tahun cahaya), Kepler-62f (1.200 tahun cahaya), bintang induk Kepler-186f (500 tahun cahaya dari Bumi), Kepler-442b (1.194 tahun cahaya dari Bumi), dan Kepler-452b yang terletak sejauh 1.400 tahun cahaya dari Bumi.

Ilustrasi bintang-bintang di luar sistem tata surya yang telah ditemukan hingga saat ini. – (NASA’s Goddard Space Flight Center)

Selain itu, terdapat tiga exoplanet yang memiliki kondisi mirip dengan Bumi. Salah satunya adalah Kepler-1649c, yang berada sejauh 300 tahun cahaya dari Bumi dan hanya 1,06 kali ukurannya. Ketika membandingkan cahaya yang diterima oleh kedua planet dari bintang masing-masing, ilmuwan menemukan bahwa exoplanet ini menerima 75 persen cahaya yang sama dengan yang diterima Bumi dari Matahari.

Namun, Proxima Centauri b berada sekitar empat tahun cahaya dari Bumi, sehingga menjadi planet luar tata surya yang paling dekat dengan Bumi, menurut NASA. Planet ekstrasurya yang ditemukan pada tahun 2016 ini memiliki berat 1,27 kali massa Bumi.

Meskipun planet luar tata surya ini berada di zona layak huni bintangnya, Proxima Centauri, namun ia mengalami radiasi ultraviolet yang sangat tinggi. Hal ini disebabkan oleh posisinya yang sangat dekat dengan bintang induknya dan memiliki siklus orbit hanya 11,2 hari.

Baca Juga  Tak Ingin Gerindra Jadi Perlindungan Politik, Bawahan Prabowo Menolak Budi Arie Bergabung

Kemudian terdapat TRAPPIST-1, sebuah planet yang ukurannya mirip Bumi dan merupakan yang pertama ditemukan di zona layak huni bintang tunggal. Sistem ini terdiri dari tujuh buah planet.

Sebagian besar air di planet-planet ini kemungkinan telah menguap sejak awal pembentukan sistem. Namun, sebuah penelitian pada tahun 2018 menemukan bahwa beberapa planet ini mampu menyimpan lebih banyak air dibandingkan lautan di Bumi. Salah satu planet tersebut, bernama TRAPPIST-1e, dianggap paling potensial untuk mendukung kehidupan seperti yang kita kenal.

Dalam dunia ilmu pengetahuan, menurut Dr Taufiq Hidayat, profesor studi Astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB), terdapat dua alur pemikiran utama mengenai kehidupan di luar Bumi. Mantan Kepala Observatorium Bosscha di Lembang ini adalah salah satu dari empat orang Indonesia yang nama mereka diabadikan sebagai nama asteroid.

Taufiq menceritakan dalam kalangan para ilmuwan terdapat dua aliran utama mengenai kehidupan di planet lain. Yang pertama bersikap optimis, sedangkan yang lainnya pesimis.

Penganut mazhab optimis mempercayai keyakinan mereka berdasarkan luasnya alam semesta. Taufik menyamakan, di galaksi Bima Sakti tempat kita tinggal, terdapat paling sedikit 200 miliar bintang.

Dari jumlah tersebut, terdapat banyak sekali bintang yang mirip dengan matahari dan memiliki planet-planet. Bima Sakti hanyalah salah satu dari 170 miliar galaksi yang telah dipetakan sampai saat ini. Setiap galaksi memiliki paling sedikit 10 juta hingga seratus triliun bintang. “Dan satu persen dari miliaran bintang itu saja sudah sangat banyak,” ujar Taufiq kepadaAdinJava.

Teleskop Ruang Angkasa Hubble berhasil mengabadikan tampilan gugus bola yang terletak di galaksi satelit Bima Sakti, yaitu Awan Magellan Besar atau Large Magellanic Cloud (LMC). – (WSA Hubble)

Oleh karena itu, menurut Taufiq, pengikut mazhab tersebut yakin bahwa kemungkinan besar terdapat planet serupa Bumi yang dihuni makhluk hidup. Bahkan, mereka juga percaya bahwa kehidupan di luar Bumi sangat melimpah.

Sementara aliran pesimis berpendapat dengan melihat situasi di Bumi. Mereka mempertimbangkan bahwa kondisi yang mendukung kehidupan di Bumi sangat banyak dan khusus. Taufiq memberikan contoh kondisi pratektonik, komposisi atmosfer, air, udara, jarak yang tepat dari bintang tempatnya mengorbit, keberadaan bulan sebagai satelit penyeimbang, serta masih banyak lagi lainnya.

Intinya, secara umum, Bumi memang unik. Pengikut aliran pesimis percaya bahwa sangat sulit menemukan kombinasi kondisi yang mampu mendukung kehidupan, khususnya makhluk yang berakal, seperti di Bumi. Namun, terdapat juga pendekatan tengah. Menurut Taufiq, kemungkinan besar makhluk berakal tidak tersebar secara melimpah di alam semesta. Meskipun demikian, lebih mungkin adanya bentuk-bentuk kehidupan yang kecil atau organisme bersel tunggal.

“Menurut saya pribadi, saya percaya ada kehidupan yang cerdas di planet lain, tetapi tidak dalam jumlah besar.” Kata Taufiq. Dan kemungkinan adanya pertemuan antara kehidupan-kehidupan cerdas tersebut, seperti yang terlihat dalam film-film fiksi ilmiah hingga saat ini, sangat kecil.

Video UFO yang dikeluarkan oleh Pentagon pada tahun 2022.

Pada tahun 1961, astronom Amerika Serikat Frank Drake memperkenalkan yang dikenal sebagai Persamaan Drake. Secara singkat, jika jumlah bintang dan usia alam semesta dihitung, serta kita ingin mengetahui kemungkinan keberadaan makhluk mirip manusia, maka probabilitasnya mencapai angka lebih dari 10 ribu jenis kehidupan di luar sana, sejak Big Bang hingga saat ini.

Apa pendapat agama Islam mengenai kehidupan di luar bumi?

Amal Elmohtar, seorang penulis fiksi ilmiah yang telah memenangkan berbagai penghargaan, menceritakan kepadaAdinJavamelalui surel bahwa gagasan tentang keberadaan makhluk hidup di planet lain bukan hal yang asing dalam khasanah sastra Arab. Perempuan keturunan Timur Tengah yang tinggal di Kanada itu kemudian menyebutkan Zakariya Alqazwini, seorang ilmuwan Arab yang hidup pada abad ke-13.

Baca Juga  Profil Roy Suryo: Pakar Telematika Tersangkut Kasus Ijazah Jokowi

Al-Qazwini merupakan seorang ahli astronomi dan penulis bukuAjaib Alam Makhluk dan Ajaib Yang Adasebuah buku kosmografi yang menjadi acuan pada masanya. Ia juga pernah menulis sebuah buku yang dianggap sebagai salah satu karya fiksi ilmiah tertua berjudul Awaj bin Anfaq. Dalam buku tersebut, Alqazwini menceritakan tentang seorang penduduk planet lain yang mengunjungi bumi di masa depan.

Para ilmuwan sering merujuk pada temuan ilmuwan lain untuk memperkuat pendiriannya mengenai topik tersebut. Namun, ayat-ayat dalam Alquran juga menjadi sumber inspirasi bagi mereka. Ayat ke-29 dari Surat Al-Ahqaf mungkin salah satunya.Salah satu tanda-Nya adalah menciptakan langit dan bumi serta makhluk-makhluk yang merangkak yang Dia sebar di keduanya. Dan Dia mampu mengumpulkan semuanya bila dikehendaki-Nya,” demikian bunyi ayat tersebut.

Di Indonesia, salah satu penafsiran yang memperkuat petunjuk adanya makhluk hidup di luar angkasa melalui ayat tersebut adalah Tafsir Alfurqankarya Ahmad Hassan (1887-1958). Tafsir ini ditulisnya antara tahun 1920 hingga 1950-an. Kini, Tafsir Alfurqan menjadi referensi utama organisasi Islam Persatuan Islam (Persis).

Ilustrasi dalam buku Ajaib Almakhluqat wa Gharaib Almawjudat karya al-Qazwini – (Museum Smithsonian)

Mengenai ayat ke-29 Surah Assyura, berikut penjelasan Ahmad Hassan dalam edisi terbitan tahun 1956:Ini berarti bahwa di langit (pada bintang-bintang) terdapat makhluk hidup yang berkuasa. Allah mampu mengumpulkan makhluk-makhluk tersebut setelah kematian mereka pada hari Kiamat.

Terdapat juga penafsiran Ahmad Hassan mengenai ayat 5 Assafaat,Tuhan yang berada di tempat-tempat terbit matahari dapat dimaknai, bahwa ada banyak bumi yang menerima cahaya dari matahari seperti bumi kita ini. Setiap bumi memiliki tempat terbit dan tempat terbenam. Jadi, maksudnya: Tuhan bagi semua bumi yang memiliki tempat terbit.

Menarik untuk diketahui bahwa penemuan planet di luar tata surya yang berada di zona mirip Bumi baru saja diverifikasi pada tahun 2011.

Pada waktu yang tidak terlalu jauh dari Ahmad Hassan, ulama asal Pakistan Abul Ala Al Maududi (1903-1979) menyampaikan pendapat yang serupa. Dalam buku komentarnya tentang Alquran, Tahfim ul Quran, pandangan Maududi mengenai dua ayat tersebut sejalan dengan tafsir Ahmad Hassan. Namun, dalam karya yang ditulisnya antara tahun 1942 hingga 1972, Maududi mengemukakan spekulasi yang lebih mendalam terkait tafsir Surat At-Talaq ayat 12.

Kandungan ayat tersebut, “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan demikian pula bumi. Perintah Allah berlaku di dalamnya, agar kalian mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya ilmu Allah benar-benar mencakup segala sesuatu.”

Sayyid Abu Ala Al-Maududi – (dok AdinJava)

Dengan panjang lebar, Maududi menjelaskan bahwa makna dari ayat tersebut adalah bahwa Tuhan telah menciptakan bumi-bumi lain yang dihuni oleh makhluk berakal seperti manusia serta makhluk-makhluk lainnya. “Dengan kata lain, bintang-bintang dan planet-planet yang jumlahnya tak terhitung bukan semuanya dibiarkan kosong. Namun, sebagaimana bumi, banyak di antaranya yang dihuni,” tulis Maududi.

Ia mengembangkan pendapat tersebut dengan merujuk pada Ibnu Abbas, salah satu sahabat Nabi Muhammad dan salah satu mufasir awal Alquran. Maududi merujuk pada kisah yang sering disampaikan oleh para ulama terdahulu bahwa Ibnu Abbas awalnya enggan menyampaikan tafsir mengenai ayat tersebut karena takut keyakinan umat Islam akan goyah.

Baca Juga  2 Contoh Pidato Hari Pahlawan 2025 dalam Bahasa Sunda yang Bermakna

Namun demikian, menurut Maududi, para mufasir klasik seperti Ibnu Jaarir Atthabari, Ibnu Abi Hatim Arrazi, dan Imam Baihaqi juga merujuk pada penjelasan tambahan dari Ibnu Abbas. “Di setiap bumi tersebut, terdapat rasul yang serupa dengan rasul kalian, Adam yang sama dengan Adam kalian, Nuh yang sama dengan Nuh kalian, Ibrahim yang sama dengan Ibrahim kalian, dan Isa yang sama dengan Isa kalian,” adalah isi kutipan tersebut.

Beberapa mufasir Alquran lain meragukan kutipan tersebut dan menyatakan bahwa jika benar kutipan itu berasal dari Ibnu Abbas, sumbernya kemungkinan berasal dari tradisi Israiliyat. Namun, menurut Maududi, keberatan-keberatan ini lebih disebabkan oleh ketidaktuntasan ilmu pengetahuan pada masa lalu.

Maududi kemudian merujuk pada ahli tafsir abad ke-19, Mahmud Alalusi, yang menyatakan, “tidak ada hambatan intelektual atau agama dalam menerima (komentar Ibnu Abbas) sebagai kebenaran. Artinya hanya bahwa di setiap bumi, terdapat makhluk-makhluk yang mengikuti keturunan mereka seperti manusia mengikuti asal usulnya dari Adam.”

Bagaimanapun, pemahaman terhadap Alquran muncul sesuai dengan kondisi zamannya. Oleh karena itu,AdinJavamencoba mengajukan pertanyaan kepada sejumlah pakar tafsir di Nusantara mengenai tanda-tanda keberadaan makhluk hidup di planet lain.

Dr Akhsin Shakho Muhammad, seorang ahli Ilmu Alquran yang lulusan Madinah serta pendiri dan pengasuh Ma`had Darul Qur’an di Arjawinangun, Cirebon menyatakan bahwa Alquran mengisyaratkan keberadaan makhluk hidup lain di ‘langit.’

“Maka jika kita melihat teks dalam Alquran, memang demikian bunyinya. Dabbatun berarti makhluk melata. Artinya dia hidup,” ujar Akhsin merujuk pada surat Assyura ayat 29.

Hanya saja, menurutnya, kita belum memahami bentuknya hingga saat ini. Mengenai hal tersebut, kata Akhsin, dapat diserahkan kepada sejarah serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Yang jelas, ia menegaskan, umat Islam harus percaya bahwa Allah benar-benar menciptakan makhluk hidup di langit yang dalam Alquran disebutsamawati.

Arti kata samawati, kata Akhsin, dapat berarti tingkatan-tingkatan langit. Dapat berupa tingkat pertama, tingkat kedua dan seterusnya. Secara umum, samawati juga bisa diartikan sebagai bintang-bintang. Bahkan seluruh area yang letaknya di atas bumi dapat disebut samawati.

Penulis Tafsir Almisbah, Profesor Quraish Shihab menyetujui pendapat tersebut. Ia menyatakan, Alquran biasanya menyebut makhluk yang berada di langit dan di bumi dengan bahasatidak ada yang tersembunyi di langit maupun di bumi.

Ahli tafsir Alquran KH Quraish Shihab. – (AdinJava/Yasin Habibi)

Makhluk-makhluk yang dimaksud, berdasarkan pengertian kata dia, merupakan makhluk-makhluk yang memiliki akal.

“Hanya saja tidak dijelaskan secara spesifik bentuk makhluk-makhluk tersebut,” kata Quraish Shihab. Menurutnya, sebagian ulama menerjemahkan makhluk-makhluk berakal itu sebagai malaikat atau jin.

Meskipun demikian, seperti Shakho, Quraish menyatakan bahwa Alquran juga menggunakan istilah dabbah untuk menggambarkan makhluk-makhluk yang tersebar di langit, sebagaimana disebutkan dalam Surat Assyura ayat 29. “Kata tersebut merujuk pada makhluk yang bergerak,” ujar Quraish Shihab. Rentang makna kata itu, menurut Quraish Shihab, mencakup mulai dari hewan besar hingga makhluk kecil.

Hal itu, menurut Quraish, sebenarnya sesuai dengan temuan para ilmuwan astrobiologi bahwa terdapat makhluk-makhluk yang mampu bertahan hidup dalam kondisi yang berbeda dari Bumi di berbagai benda langit.

Pada akhirnya, menurut Quraish, jika nanti penelitian ilmiah membuktikan adanya makhluk hidup di planet lain, umat Islam sebenarnya tidak perlu merasa khawatir. Bahkan, melalui petunjuk-petunjuk dalam Alquran, umat Islam dapat turut mendukung temuan-temuan tersebut.

“Maka, yang kita peroleh adalah keyakinan ganda, dari penelitian ilmiah, dan dari kitab suci,” katanya.

Berita Terkait

Prediksi Skor, H2H, dan Susunan Pemain Bologna vs Napoli di Serie A
Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu
Dari Saluran Air Jadi Berkah: Warga Belajar dari Aliran Air
Viral, Pemain Persib Kena Tilang Polisi Malaysia, Terkejut Tahu Robi Darwis Prajurit TNI
Usaha Daffa Wardhana Membuat Hadiah Ultah Ariel Tatum, Hasilnya Menakjubkan dan Disukai Banyak Orang
7 Trik Pintar Menggunakan AI ala Ahli Keuangan
Susunan Upacara Hari Pahlawan 10 November 2025: Panduan Lengkap PDF dan Aturan Baju Profesi
Update Terbaru: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Sudah Sadar, KPAI Siap Bantu

Berita Terkait

Minggu, 30 November 2025 - 14:14 WIB

Prediksi Skor, H2H, dan Susunan Pemain Bologna vs Napoli di Serie A

Minggu, 30 November 2025 - 13:29 WIB

Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu

Minggu, 30 November 2025 - 12:44 WIB

Heboh 3I/ATLAS, Ini Fakta ‘Alien’ Menurut Sains dan Ulama

Minggu, 30 November 2025 - 06:43 WIB

Viral, Pemain Persib Kena Tilang Polisi Malaysia, Terkejut Tahu Robi Darwis Prajurit TNI

Minggu, 30 November 2025 - 05:58 WIB

Usaha Daffa Wardhana Membuat Hadiah Ultah Ariel Tatum, Hasilnya Menakjubkan dan Disukai Banyak Orang

Minggu, 30 November 2025 - 05:13 WIB

7 Trik Pintar Menggunakan AI ala Ahli Keuangan

Minggu, 30 November 2025 - 01:27 WIB

Susunan Upacara Hari Pahlawan 10 November 2025: Panduan Lengkap PDF dan Aturan Baju Profesi

Minggu, 30 November 2025 - 00:42 WIB

Update Terbaru: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Sudah Sadar, KPAI Siap Bantu

Berita Terbaru

Teknologi

Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu

Minggu, 30 Nov 2025 - 13:29 WIB

Teknologi

Heboh 3I/ATLAS, Ini Fakta ‘Alien’ Menurut Sains dan Ulama

Minggu, 30 Nov 2025 - 12:44 WIB