AdinJavaHujan turun deras di tengah Kota Tenggarong pada sore hari, Selasa (4/11/2025). Sejak siang, langit tidak pernah menunjukkan tanda-tanda hujan akan reda. Awan gelap menggantung rendah. Air meluap hingga ke tepi jalan. Penuh dengan genangan.
Di tengah hujan yang masih turun di atap, seorang wanita paruh baya berkerudung putih mendorong gerobak tua. Tumpukan sampah menumpuk di dalam gerobak tersebut.
Ia kemudian memarkirkan gerobak di sisi kiri jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Wajahnya terlihat lelah.
Setelah memastikan kereta dorong berada di lokasi yang aman, dia membuka ikatan antara ujung pegangan kantong plastik dan tali rafia yang terikat di bagian belakang kereta dorong tersebut.
Setelah itu, dia mengambil kantung plastik yang berisi sepasang gelas minuman teh dingin dan salome yang baru saja dibelinya. Ia melangkah menyeberang menuju Warung Om Indro yang terletak bersebelahan dengan Kantor Dinas Perikanan dan Pertanian Kukar di sisi sebelah kanan jalan.
Warung itu biasanya ramai dikunjungi oleh pembeli. Malam ini, pemilik warung tampaknya lebih dulu menutup tempat jualannya.
Saat menginjakkan kakinya tepat di depan Warung Om Indro, ia memberikan senyuman lalu duduk di bangku persegi panjang sambil meletakkan es teh dan salome.
Jari tangannya yang keriput bergetar terkena hujan senja yang deras. Senyum tulus dan lembut mengembang dari wajahnya, bahkan kepada seseorang yang tidak dikenalnya.
Mari kita minum es dan salome, Om. Aku biasanya makan di mana saja ketika lapar, Om. Kadang-kadang baru pulang dan makan siang di rumah. Silahkan minum dan makan, Om,” kata perempuan yang akhirnya diketahui bernama Nenek Is dengan suara lembut.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ia diam seribu bahasa. Selanjutnya, ia melemparkan pandangannya ke jalan. Mengamati lalu lintas sepeda motor dan mobil yang melintas, namun di sudut mata tersembunyi tetesan air mata yang hampir menetes.
“Ayo makan, Pak,” ujarnya sambil mengganti raut sedih dengan senyuman dari sudut wajahnya.
Tidak lama kemudian, ia menceritakan kegiatannya sore tadi setelah pertemuan pertama kita di Jalan Imam Bonjol.
Kemarin sore aku melakukan perjalanan mencari sampah di terminal yang berada dekat Pasar Modern Tangga Arung. Saat gerobak ditempatkan di belakang terminal,” katanya.
Setelah sampah-sampah tersebut dikumpulkan dalam kantong kresek berukuran sedang, ia lalu membawa sampah-sampah itu menuju gerobak. Jaraknya sekitar 300 meter.
Rute terakhir kegiatan pengumpulan sampah dilakukan di sebuah toko swalayan yang tidak jauh dari Warung Om Indro. Setelah menyelesaikan salome dan menyisakan seperempat es teh, ia meminta izin untuk pergi melanjutkan aktivitasnya.
Berjalan pergi setelah hujan reda. Namun, kamera tetap mengikuti dan merekam momen tersebut. Sampai di toko kelontong, wanita paruh baya itu berdiri tepat di depan sebuah tempat sampah plastik.
Ia mencari sampah-sampah yang dibuang. Di sekitar tempat ia berdiri, beberapa orang duduk minum kopi dan merokok. Beberapa pegawai berpakaian rapi turun dari mobil mereka dan berjalan menuju ke dalam toko tersebut. Apakah kemanusiaan telah mati dalam diskusi ini? Entahlah.
Setelah mengumpulkan sampah dan meletakkannya di kereta dorong, kami berpamitan di persimpangan jalan Imam Bonjol yang tidak terlalu jauh dari Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II A Tenggarong.
Pertemuan Pertama, Menjelajahi Lebih Jauh
Pertemuan dengan Nenek Is terjadi secara tidak sengaja setelah selesai meliput di Lapas Kelas II A Tenggarong. Saat berada di persimpangan, Nenek Is sedang mendorong gerobak tua yang penuh dengan tumpukan sampah menuju rumahnya di Jalan Imam Bonjol, Gang 2, RT 8, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong.
Dalam wawancara dengan AdinJava, Selasa (4/11/2025) siang, Nenek Is menceritakan, sejak tahun 1980-an ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Provinsi Jawa Tengah dan pergi ke Samarinda.
Sesampainya di ibu kota Provinsi Kalimantan Timur, ia sempat bekerja di panti asuhan lansia. Ternyata, Usman yang nantinya menjadi suaminya juga bekerja di tempat yang sama.
Di sana, mereka saling terpikat dan sepakat untuk melanjutkan hubungan mereka menuju pernikahan. Mereka dianugerahi enam anak dari hubungan tersebut.
Setelah beberapa tahun menghadapi tantangan hidup di Kota Samarinda, Is bersama suaminya memutuskan untuk pindah ke Kutai Kartanegara dan sekarang tinggal di Kelurahan Melayu.
“Di rumah tempat tinggal ini, suami tercinta telah meninggal dan kembali kepada Allah SWT,” kenang Is.
Setelah menceritakan sebagian kisah mengenai suami yang telah tiada, Is sempat diam beberapa saat. Air mata hampir terjatuh. Suaranya bergetar.
Beberapa saat ia berusaha menahan aliran air mata yang hampir mengalir dari kelopak matanya. Setelah kematian suaminya, Is tinggal bersama putra kandungnya, menantu, dan tiga orang cucunya.
Setelah suaminya yang sangat dicintai pergi, Is bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari mengurusi warung makanan, mencuci pakaian hingga menjadi pengumpul sampah plastik.
“Intinya uang yang halal. Saya juga tidak malu atau apa pun, intinya uangnya halal,” tegasnya.
Ia telah menghabiskan puluhan tahun dalam pekerjaan mengumpulkan sampah plastik. Pada pukul 06.00 WITA, biasanya ia berangkat dari rumah menuju berbagai titik tempat penampungan sementara (TPS) untuk mencari berbagai jenis sampah seperti botol plastik, kardus, kertas, logam besi, dan aluminium. Sekitar pukul 11.30 WITA, Is kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Dari pukul 02.00 WITA hingga 19.00 WITA, ia kembali pergi mencari sampah.
Harga per kilogram botol plastik, kertas, dan karton dijual seharga Rp1000. Sementara itu, aluminium dihargai Rp13.000. Harga tembaga lebih tinggi dibandingkan jenis sampah lainnya. Meskipun begitu, tembaga jarang ditemukan.
Ia berharap suatu saat nanti mampu memperoleh hadiah undian berupa satu unit mobil dari pekerjaan mengumpulkan sampah tersebut.
Saya melihat iklan di televisi yang menawarkan hadiah mobil untuk tutup botol. Sejak menontonnya, saya menjadi sangat tertarik untuk memenangkan undian tersebut. Sayangnya, saya belum mendapatkan tutup botol berhadiah dari semua barang bekas yang telah saya kumpulkan,” katanya sambil tertawa.






