Kisah Wukirsari: Bangkit dari Reruntuhan ke Panggung Dunia dengan Warisan Terbaik

- Penulis

Sabtu, 29 November 2025 - 11:54 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

AdinJavaPagi hari, Sabtu 27 Mei 2006. Suara gemuruh mengganggu ketenangan di Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.

Bumi bergetar, dinding-dinding bangunan ambruk, dan debu meluncur tinggi seperti menutupi langit.

Di tengah teriakan kacau dan air mata, Bahtiar yang berusia enam tahun hanya mampu memeluk ibunya dengan erat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menangis diam-diam, tubuhnya menggigil. Sementara ibunya berusaha mencari tempat yang aman di antara puing-puing.

Keributannya pada saat itu sangat menakutkan. Saat itu saya hanya ingin dipangku, tidak mau turun ke tanah,” kenang Bahtiar saat bercerita kepada Tribunnews, Senin 20 Oktober 2025.

Gempa yang terjadi pukul 05:55 WIB di pagi hari mengguncang Bantul selama 57 detik, menyebabkan getaran yang terasa hingga Surabaya, sejauh 330 km dari titik pusat gempa.

Dalam waktu kurang dari satu menit, berbagai bangunan seperti rumah, sekolah, tempat ibadah, pusat perbelanjaan, pasar, dan lainnya hancur total.

Sebanyak 6.652 jiwa meninggal dunia. Jumlah korban yang sangat besar membuat gempa dengan kekuatan 5,9 SR ini menjadi salah satu peristiwa paling mematikan pada abad ke-21, menurut BMKG.

Laporan BNPB menyebutkan, jumlah rumah yang mengalami kerusakan total sebanyak 71.763, kerusakan berat sebanyak 71.372, dan kerusakan ringan sebanyak 66.359.

Rumah-rumah di Wukirsari mengalami kerusakan parah akibat gempa. Banyak keluarga kehilangan tempat tinggal mereka.

“Sekitar 80 persen rumah di sini hancur. Hanya rumah yang masih menggunakan anyaman bambu yang berdiri, bahkan itu juga miring dan harus diberi penopang,” kata Bahtiar yang kini berusia 26 tahun.

Wukirsari terletak 13 km dari Sungai Opak di Dusun Potrobayan, Pundong, Bantul, – lokasi yang menjadi pusat titik gempa.

Betapa hebatnya guncangan yang dirasakan di sana, bahkan dari jarak lebih dari 300 km getaran gempa masih terasa. Inilah yang mungkin menyebabkan banyak rumah di sana rusak parah.

“Kami tinggal di bawah tenda terpal selama hampir 11 bulan,” kata Bahtiar.

Namun, siapa menyangka di balik gempa yang hebat itu terdapat makna penting, menjadi awal dari pemulihan Wukirsari.

Berbagai organisasi, baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), hadir memberikan dukungan, menggabungkan upaya dengan harapan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi Wukirsari.

Mereka mengeksplorasi potensi yang terdapat di desa tersebut sebagai dasar untuk kembali bangkit.

“Mayoritas ibu-ibu yang ditanya tentang pekerjaannya menjawab sebagai pembatik. Hal ini dianggap sebagai peluang yang besar,” ujar Bahtiar.

Pengumpulan data yang dilakukan setelah gempa pada masa itu, menunjukkan sekitar 1200 perajin batik tulis di Wukirsari.

Mayoritas pengrajin batik tulis berasal dari dusun Giriloyo, Cengkehan, dan Karangkulon, tiga dari 16 dusun yang terdapat di Desa Wukirsari.

Mereka selanjutnya dibagi ke dalam kelompok untuk mendapatkan bimbingan, diajarkan cara membuat batik yang berkualitas hingga siap dipasarkan.

Rasa memiliki pengalaman serupa yang dirasakan setelah gempa, membuat warga Wukirsari bersatu untuk bangkit kembali.

“Setelah rumah-rumah diperbaiki dan proses penyembuhan trauma selesai, kegiatan membatik kembali berjalan. Sebelumnya seperti dalam keadaan mati suri,” kata Bahtiar.

Sekitar setahun setelah gempa, pada 27 Mei 2007, warga Wukirsari melakukan sebuah inisiatif dengan membatik pada kain yang panjangnya 1.200 meter atau 1,2 kilometer.

Mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu ikut serta dalam kegiatan tersebut. Aksi ini berhasil menciptakan rekor MURI untuk batik tulis terpanjang di seluruh Indonesia.

“Itu menjadi salah satu titik penting dalam bangkitnya batik di sini,” ujar Bahtiar.

Pada tahun yang sama, Paguyuban Batik Giriloyo didirikan. Para pengrajin dan kelompok-kelompok batik mulai kembali beraktivitas dalam membatik.

Seiring berjalannya waktu, informasi mengenai Wukirsari yang memiliki potensi batiknya terus dikembangkan. Berbagai kerja sama dengan pihak luar terus dibangun.

Tiga tahun kemudian, Wukirsari mengumumkan dirinya sebagai Desa Wisata dengan Kampung Batik Giriloyo sebagai objek utamanya.

Setelah 15 tahun beroperasi, Kampung Batik Giriloyo menjadi salah satu yang menyumbang keberhasilan Wukirsari meraih gelar Desa Wisata Terbaik Dunia 2024.

Bukan sembarang pencapaian, karena penetapannya dilakukan oleh Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nation World Tourism Organization/UMWTO).

Penghargaan tersebut merupakan kelanjutan dari prestasi sebelumnya, ketika Wukirsari terpilih sebagai Juara 1 Desa Wisata Maju dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2023 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Jejak Warisan Zaman Mataram

Sudah menjadi kebiasaan, nama suatu tempat sering kali menggambarkan ciri khas geografis atau bentuk permukaan tanah daerah tersebut.

Baca Juga  Shalawat Dalailul Khairat: Sejarah, Kumpulan, Manfaat, dan Cara Amalkan

Demikian pula di Wukirsari, yang berasal dari kata “wukir” yang berarti gunung, dan “sari” yang berarti baik.

Oleh karena itu, secara harfiah Wukirsari berarti daerah pegunungan yang indah.

Dan memang, desa ini terletak di ketinggian dengan bentuk dataran yang berbukit sedang, menyajikan pemandangan alam yang menakjubkan.

Wukirsari terdiri dari 16 lingkungan, dan di antaranya, tiga lingkungan yaitu Giriloyo, Cengkehan, dan Karangkulon menjadi pusat kehidupan desa ini.

Di tiga desa ini, nama Kampung Batik Giriloyo melekat sebagai pusat penghasil batik tulis tradisional yang masih bertahan hingga saat ini.

Hampir setiap rumah di tiga dusun tersebut menyimpan kisah mengenai lilin panas, pola-pola tradisional, serta tangan-tangan perempuan yang teliti dan sabar menciptakan keindahan.

Nuh Ahmadi, Wakil Ketua Desa Wisata Wukirsari mengungkapkan, asal usul batik di Wukirsari dimulai ketika Kerajaan Mataram masih megah, khususnya saat Sultan Agung Hanyokrokusumo memerintah (1613-1645).

Salah satu perintah Raja ke-3 Kesultanan Mataram pada masa itu adalah membangun makam bagi dirinya serta keturunannya di wilayah Imogiri.

Secara ringkas, bukit Merak yang terletak di atas Kampung Batik Giriloyo di Wukirsari saat ini dipilih sebagai lokasi pembangunan kompleks makam raja-raja Mataram.

Di situlah pada tahun 1632, makam raja-raja mulai dibangun dan menjadi awal masyarakat Wukirsari mengenal batik.

Setiap aktivitas yang dilakukan di kawasan makam, para pelayan dan bangsawan dari Kerajaan Mataram biasanya mengenakan pakaian batik.

Karena permintaan kain batik yang cukup besar, pihak keraton mulai mencari pembatik untuk diangkat sebagai tenaga kerja.

Dua tahun setelah dimulai pembangunannya, masyarakat sekitar kompleks makam mulai menerima transfer pengetahuan tentang membatik.

“Keturunan kami dahulu banyak yang menjadi abdi dalem Keraton yang tugasnya merawat kawasan makam. Istri-istri abdi dalem ini kemudian diajarkan untuk membatik,” kata Nur Ahmadi.

Tradisi ini terus berlangsung dan ilmu membatik disampaikan secara turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya selama ratusan tahun. Hingga tahun 1990-an, masyarakat sekitar makam masih melanjutkan kegiatan membatik.

Namun, mereka hanya menggambar motif pada kain putih, belum sampai menjadi kain batik yang utuh dan siap digunakan atau dijual.

Para pengrajin belum mengetahui cara mewarnainya, sehingga mereka tidak mampu menjualnya sendiri.

“Pembatik di sana saat itu masih bekerja bagi para pemilik batik di pusat kota, menjual hasil yang belum selesai yang kemudian diperbaiki di sekitar daerah keraton,” ujar Nur Ahmadi.

Akibatnya, pendapatan tetap sangat rendah, belum cukup untuk membahagiakan masyarakat.

Hanya pada tahun 2006, gempa besar Yogyakarta menjadi titik balik dalam pemulihan Wukirsari.

Menjadi Tempat Edu-Wisata 

Setahun setelah gempa tahun 2006, kegiatan membatik di Wukirsari kembali berjalan.

Setelah menerima bimbingan dari pihak luar, pengrajin batik yang sebelumnya hanya bekerja sebagai tenaga bantu dalam pembuatan batik setengah jadi kini mampu membuat sendiri secara mandiri hingga siap dipasarkan.

Namun, hambatan lain muncul. Masalah pemasaran menjadi kendala yang dihadapi para pengrajin batik.

Tidak semua kain batik yang dihasilkan dapat terjual secara langsung. Padahal, proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama.

“Bisa memakan waktu hingga sebulan atau bahkan lebih untuk menyelesaikan satu kain berukuran 3 x 5 meter,” ujar Nur Ahmadi.

“Di sisi lain, warga ini juga membutuhkan makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bagaimana cara bertahan jika penjualan batik tidak menentu,” tambahnya.

Mengenai harga, sebenarnya cukup layak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika dijual.

Dulunya, harga yang ditawarkan berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp300 ribu. Sedangkan untuk saat ini, harga dimulai dari Rp500 ribu untuk motif sederhana, hingga mencapai Rp2,5 juta untuk batik dua warna yang lebih rumit.

Namun karena ketidakpastian dalam penjualan, hal ini menyebabkan para perajin terus merasa cemas.

Kumpulan pengrajin batik menjadi salah satu tempat untuk mencari jalan keluar dari berbagai tantangan yang dihadapi para pembatik.

Muncul gagasan untuk menciptakan sebuah lokasi yang berbasis edutourism sekaligus sebagai tempat pelestarian batik.

Tentu, pada masa itu isu mengenai batik ini cukup menarik perhatian karena beberapa negara mengklaimnya sebagai warisan budaya mereka.

Pada tanggal 2 Oktober 2009, Batik akhirnya diakui sebagai warisan budaya tak benda yang dimiliki oleh Indonesia.

Pernyataan ini diakui oleh UNESCO, organisasi PBB yang berfokus pada pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan, pengakuan yang akhirnya menyelesaikan perdebatan yang melibatkan beberapa negara.

Dari sana akhirnya muncul gagasan untuk menjadikan Wukirsari sebagai Desa Wisata dan mengembangkan Kampung Batik Giriloyo sebagai pusat Eduwisata serta Pelestarian Budaya benar-benar terealisasi.

Baca Juga  Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu

“Kegiatan membatik tetap berlangsung di rumah-rumah penduduk. Namun kita juga sedang mengembangkan sebuah destinasi wisata edukasi mengenai batik,” ujar Nur Ahmadi.

Dengan berkembangnya Kampung Batik Giriloyo, para pengunjung dapat mengalami langsung proses membatik dengan bimbingan dari para ahlinya.

Harga paket wisata saat ini hanya memerlukan pembayaran sebesar Rp250 ribu. Paket ini dapat digunakan oleh lima orang, dan nantinya akan mendapatkan kain berukuran 30×30 cm untuk keperluan membatik.

Kelak, pengunjung juga dapat membawa pulang karya batik yang telah selesai dibuat.

Nur Ahmadi menceritakan, pada awal pembentukan Desa Wisata, jumlah kunjungan ke Kampung Batik Giriloyo masih rendah.

“Beberapa hari ini ada kunjungan, besok kosong, terkadang juga seminggu sekali atau dua kali. Bahkan pernah sebulan lamanya kosong,” katanya.

Namun dia tidak menyerah begitu saja. Berkat usaha keras dan kesadaran bersama dari pengurus lainnya, kini mereka menikmati hasilnya,

Peningkatan jumlah pengunjung wisata terus terjadi setiap tahun. Tahun 2019, jumlah kunjungan wisata mencapai 29.000 orang.

“Namun ketika wabah menyebar, jumlah wisatawan mengalami penurunan yang signifikan. Pada tahun 2020 terjadi penurunan yang mencolok, dan pada 2021 pengunjungnya sangat sedikit,” ujar Nur Ahmadi.

Hanya pada tahun 2022, kunjungan ke Wukirsari kembali ramai, dengan jumlah pengunjung mencapai 24.500 orang dalam tahun tersebut.

Angka ini terus meningkat, pada tahun 2023 sebanyak 41 ribu dan tahun 2024 mencapai 45 ribu pengunjung yang datang ke Wukirsari.

“Awalnya, banyak orang tidak percaya. Mereka menganggapnya hanya sebagai alat untuk mencari bantuan,” ujar Nur Ahmadi.

“Kami menjawabnya bukan melalui ucapan, melainkan melalui tindakan. Jika menjawab dengan kata-kata justru akan memicu perselisihan,” tambahnya.

“Kami tunjukkan. Lho… ini lhoo… hasilnya, ada sebanyak ini kunjungan, pendapatannya sejumlah itu, yang diterima masyarakat sebanyak itu,” ujarnya dengan semangat.

Jumlah pengunjung yang datang menyebabkan arus uang di Wukirsari mencapai ratusan juta setiap bulannya.

Hitung saja, jika para wisatawan memilih paket membatik dengan harga minimal Rp50 ribu per orang, dan terdapat 4 ribu peserta dalam sebulan, maka uang yang beredar mencapai Rp200 juta.

Sekarang, di Desa Batik Giriloyo, terdapat toko pameran, ruang rapat, galeri batik, serta gazebo-gazebo yang digunakan sebagai tempat untuk belajar membatik.

Lokasi ini menjadi pusat kumpulnya aktivitas ekonomi dan pariwisata yang dilakukan oleh warga dan pelaku industri wisata.

Masyarakat Rasakan Dampaknya

Kisah gempa yang terjadi pada tahun 2006 sudah hampir sepuluh tahun lalu masih tersimpan dalam ingatan warga Wukirsari. Namun kini tidak ada lagi rasa sedih, yang tersisa hanyalah rasa terima kasih.

Pemandangan ketika rumah-rumah rusak, kini berubah menjadi kedatangan pengunjung wisatawan yang datang hampir setiap hari.

Sejak tahun 2021, Paguyuban yang dibentuk setelah gempa kini telah berubah menjadi koperasi dan mengelola 12 kelompok pembatik.

Setiap kelompok memiliki anggota masing-masing, dan seluruhnya tergabung dalam satu wadah agar tidak terjadi persaingan yang tidak sehat antar-pembatik.

Melalui organisasi koperasi ini, seluruh kegiatan pariwisata—mulai dari jadwal kunjungan, pelatihan membatik, hingga pemasaran barang—dikelola dengan rapi dan terencana.

Peningkatan kunjungan wisata ini juga memberikan dampak kepada masyarakat, Giyanti (49) dan Istijanah (56) adalah dua di antaranya.

Sejak era 1980-an, Giyanti dan Istijanah telah menguasai seni membatik. Mereka mulai belajar membatik dari ibu mereka ketika masih kecil.

Dulunya, mereka hanya pekerja batik yang bekerja dari pagi hingga malam dengan gaji yang tidak begitu besar.

Kini, seiring dengan perkembangan Kampung Batik, mereka juga berperan sebagai pendidik budaya, atau dalam istilah yang lebih modern, menjadi pandu wisata.

Setidaknya, setiap lima wisatawan yang datang untuk belajar membatik akan didampingi oleh satu perajin.

“Sekarang alhamdulillah, tidak lagi menjadi pekerja. Terkadang kami juga menemani wisatawan, bahkan mereka membeli langsung dari sini,” kata Istijanah (56).

Dari satu sesi kegiatan mendampingi turis, mereka mampu memperoleh penghasilan tambahan sebesar Rp35.000 hingga Rp40.000.

“Pada satu hari bisa ada satu sesi pendampingan, terkadang dua. Atau jika sedang ramai tiga sesi. Tinggal dikalikan saja sesi sebelumnya,” katanya.

Pemandu wisata ini berputar-putar. Mengenai jadwal siapa yang bertugas ditentukan oleh pengurus paguyuban batik yang telah membentuk koperasi sebelumnya.

Sambil menunggu kain batik kering setelah dijemur, kami dapat ikut mengajak para wisatawan berkeliling. Setelah itu, kami melanjutkan proses membatik di rumah,” tambahnya.

Baca Juga  Tunku Ismail Siap Tanggung Biaya, Media Vietnam: Uang Tak Bisa Selamatkan Sepak Bola Malaysia

Untuk Istijanah dan Giyanti, setiap kedatangan pengunjung bukan hanya peluang ekonomi.

Selain itu, mereka merasa menjadi bagian dari tujuan yang lebih besar: menjaga api warisan batik tulis agar tetap menyala.

Giyanti mengatakan, kami membantu menjelaskan sejarah batik, cara pembuatannya, serta maknanya. Jadi bukan hanya mengajar, tetapi juga memperkenalkan budaya.

Bahagia rasanya melihat orang asing belajar dengan penuh antusias,” ujar Giyanti, tersenyum.

“Mereka mungkin datang untuk berwisata, tetapi pulangnya membawa kisah mengenai Batik dan budaya di sini,” tambahnya.

Tidak hanya para pengrajin batik yang mendapatkan manfaat positif, namun juga mereka yang ahli di bidang lain merasakannya.

Orang yang mampu memasak kita libatkan dalam bekerja di bagian dapur untuk menyiapkan hidangan.

“Orang yang suka membersihkan rumah, fokus pada tempat penginapan. Yang senang berdagang, menjual souvenir,” ujar Nur Ahmadi.

Ada 12 penginapan homestay di Wukirsari yang dapat menjadi pilihan akomodasi bagi para wisatawan.

Warga Wukirsari telah menunjukkan, melalui upaya untuk menggabungkan langkah-langkah, mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan.

Maka Desa Wisata Terbaik di Dunia

Selain kain batik, di Desa Wisata Wukirsari juga terdapat potensi ekonomi kreatif lainnya.

Di Desa Pucung, para pengrajin tetap setia menjaga seni tatah sungging, keterampilan pembuatan wayang kulit yang diwariskan secara turun-temurun.

Dari sudut pandang lain, penduduk memproses teh gurah yang diyakini sebagai obat untuk gangguan pernapasan, serta menyajikan minuman tradisional seperti wedang uwuh yang dapat menghangatkan tubuh.

Di puncak bukit, terdapat kawasan makam raja-raja Mataram yang memberikan nuansa spiritual dan keagamaan bagi para pengunjung.

Seluruh potensi tersebut berkumpul dalam satu visi, menjadikan Wukirsari sebagai desa wisata yang berkembang dari masyarakat untuk masyarakat.

Pengelolaan pariwisata dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis masyarakat (community-based tourism), di mana penduduk menjadi pelaku utama dalam setiap tahap pembangunan.

Hampir separuh dari 18.300 penduduknya bergantung pada sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) serta pariwisata.

Usaha tersebut berkembang dan diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga menjadikan desa ini sebagai contoh nyata bagaimana tradisi dapat berjalan selaras dengan kesejahteraan.

Tidak mengherankan, desa yang menjadi bagian dari Desa Sejahtera Astra (DSA) pada tahun 2024 ini diakui sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia oleh Organisasi Pariwisata Dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNWTO).

Penghargaan tersebut bukan hanya apresiasi terhadap kecantikan batik, tetapi juga pengakuan terhadap keberhasilan masyarakat dalam melestarikan warisan, berinovasi, serta saling mendukung di tanah yang kaya akan sejarah — tempat tinggal para raja Mataram.

Penghargaan tersebut diperoleh pada tahun 2024, setahun setelah Wukirasi memenangkan juara pertama dalam Anugerah Wisata Indonesia (ADWI) 2023 kategori Desa Wisata Maju dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Pencapaian itu pantas diucapkan terima kasih. Namun menurut Nur Ahmadi, sejumlah penghargaan tersebut bukanlah tujuan akhir.

“Juara yang diraih ini hanyalah tambahan. Kami menganggapnya sebagai kemenangan ketika masyarakat kami merasakan manfaat dari adanya pariwisata,” katanya.

Tantangan Regenerasi Pembatik

Sekarang, semangat Kampung Batik Giriloyo memang terasa hidup. Pengunjung datang bergantian, para pengrajin batik bekerja sambil berbagi ilmu, dan perekonomian masyarakat semakin berkembang.

Namun di balik kegembiraan tersebut, muncul kekhawatiran yang sering disampaikan oleh para pengrajin: siapa yang akan melanjutkan tradisi ini di masa depan?

Jumlah pengrajin batik di Wukirsari kini telah menurun signifikan, hanya tersisa 640 pengrajin, setengah dari jumlah yang ada dua puluh tahun lalu.

Mayoritas pengrajin batik di Giriloyo saat ini adalah wanita, dengan rata-rata usia melebihi 30 tahun.

Mereka besar bersama dengan batik sejak kecil, sehingga menjadi napas kehidupan dan sumber penghidupan.

Namun dengan perkembangan zaman dan meningkatnya tingkat pendidikan, anak-anak mereka mulai mengambil jalan yang berbeda.

“Kami juga merasa khawatir. Pembatik di sini sudah tua. Sementara yang muda lebih memilih bekerja di pabrik atau kantor di kota itu,” ujar Istijanah.

Perubahan ini menjadi tantangan yang baru. Di satu sisi, kemajuan pendidikan merupakan hasil dari perkembangan kesejahteraan.

Namun di sisi lain, hal ini juga dapat menimbulkan dampak: menurunnya generasi penerus pengrajin batik tulis.

Meskipun demikian, berdasarkan kejadian yang terjadi sebelumnya, warga yang sudah memiliki keluarga dan tidak bekerja di kantor atau pabrik akan mengikuti jejak leluhurnya dengan menjadi pengrajin batik.

“Harapannya nanti tetap ada yang melanjutkan. Jangan sampai ditinggalkan, jangan sampai kehilangan warisan ini,” ujarnya.

(AdinJava/Tio)

Berita Terkait

Prediksi Skor, H2H, dan Susunan Pemain Bologna vs Napoli di Serie A
Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu
Heboh 3I/ATLAS, Ini Fakta ‘Alien’ Menurut Sains dan Ulama
Dari Saluran Air Jadi Berkah: Warga Belajar dari Aliran Air
Viral, Pemain Persib Kena Tilang Polisi Malaysia, Terkejut Tahu Robi Darwis Prajurit TNI
Usaha Daffa Wardhana Membuat Hadiah Ultah Ariel Tatum, Hasilnya Menakjubkan dan Disukai Banyak Orang
7 Trik Pintar Menggunakan AI ala Ahli Keuangan
Susunan Upacara Hari Pahlawan 10 November 2025: Panduan Lengkap PDF dan Aturan Baju Profesi

Berita Terkait

Minggu, 30 November 2025 - 14:14 WIB

Prediksi Skor, H2H, dan Susunan Pemain Bologna vs Napoli di Serie A

Minggu, 30 November 2025 - 13:29 WIB

Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu

Minggu, 30 November 2025 - 12:44 WIB

Heboh 3I/ATLAS, Ini Fakta ‘Alien’ Menurut Sains dan Ulama

Minggu, 30 November 2025 - 06:43 WIB

Viral, Pemain Persib Kena Tilang Polisi Malaysia, Terkejut Tahu Robi Darwis Prajurit TNI

Minggu, 30 November 2025 - 05:58 WIB

Usaha Daffa Wardhana Membuat Hadiah Ultah Ariel Tatum, Hasilnya Menakjubkan dan Disukai Banyak Orang

Minggu, 30 November 2025 - 05:13 WIB

7 Trik Pintar Menggunakan AI ala Ahli Keuangan

Minggu, 30 November 2025 - 01:27 WIB

Susunan Upacara Hari Pahlawan 10 November 2025: Panduan Lengkap PDF dan Aturan Baju Profesi

Minggu, 30 November 2025 - 00:42 WIB

Update Terbaru: Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Sudah Sadar, KPAI Siap Bantu

Berita Terbaru

Teknologi

Harga Emas Antam Naik Rp21.000 dalam Seminggu

Minggu, 30 Nov 2025 - 13:29 WIB

Teknologi

Heboh 3I/ATLAS, Ini Fakta ‘Alien’ Menurut Sains dan Ulama

Minggu, 30 Nov 2025 - 12:44 WIB