HOUSTON, AdinJavaPanggung dunia untuk dialog antarbudaya dan pluralisme baru saja memiliki ikon barunya.
Pada hari Kamis, 6 November 2025, The Ismaili Center, Houston diresmikan oleh Wali Kota John Whitmire, dengan hadirnya Pangeran Rahim Aga Khan V, pemimpin spiritual komunitas Muslim Syiah Ismaili Nizari secara global.
Lokasi seluas 11 hektar yang menghadap Buffalo Bayou Park ini bukan hanya sebuah bangunan pribadi; ia merupakan pusat budaya dan sipil pertama yang dipersembahkan oleh komunitas Ismaili di Amerika Serikat.
Kehadirannya mengingatkan pada semangat Ismaili, keseimbangan antara manusia, tempat, dan alam.
Arsitektur sebagai Jembatan Dialog
Pusat Ismaili di Houston merupakan yang ketujuh di dunia, bersama dengan kota-kota seperti London, Vancouver, dan Toronto.
Bangunan lima lantai yang memiliki luas 14.000 meter persegi ini dibuat oleh arsitek terkenal internasional, Farshid Moussavi dari Farshid Moussavi Architecture, London, serta desain lanskapnya oleh Thomas Woltz dari Nelson Byrd Woltz Landscape Architects.
Bangunan ini tidak meniru gaya historis, tetapi menghadirkan konsep abadi dunia Muslim, seperti cahaya sebagai bahan, ketertiban struktural, dan hiasan sebagai ukuran manusia, melalui keterampilan modern.
Inspirasi dari istana dan kehidupan rumah tangga Persia terlihat jelas dalam penggunaan eivans (beranda) serta tirai batu berlubang yang berfungsi mengatur cahaya dan privasi.
Dibentuk oleh iklim Houston, desainnya memanfaatkan atrium dan lantai yang terbuka, menciptakan ruang luar ruangan yang teduh, mendorong pergerakan sepanjang tahun antara bagian dalam dan luar bangunan.
Selain itu, terdapat sebuah oculus atau lubang bulat di atas, yang menjadi ciri khas dari atrium pusat, sejajar dengan pintu Jamatkhana (ruang ibadah), melambangkan keselarasan antara langit dan tempat suci.
Lanskap Refleksi dan Ketahanan Lingkungan
Lingkungan sekitar Ismaili Center yang meliputi lebih dari sembilan hektar taman dan halaman, merupakan hasil karya teknik lingkungan dan wujud keberlanjutan budaya.
Thomas Woltz menghabiskan lebih dari sepuluh tahun meneliti aspek ruang dan budaya taman-taman Islam kuno di Spanyol, Mesir, dan India, termasuk pola geometris serta makna air. Hal ini terlihat pada air mancur besar yang berada di pintu masuk utama.
Lahan yang condong ke arah Buffalo Bayou diubah menjadi sistem terasering berupa rumput, kolam refleksi, dan taman yang mampu menyesuaikan diri dengan banjir, dirancang untuk mengatasi kejadian badai 500 tahun di Houston.
Pilihan tanaman yang dipilih menggambarkan “transect of Texas”, mencerminkan kemampuan komunitas Ismaili dalam beradaptasi di tanah air yang baru.
Kompleks ini sepenuhnya fokus pada dialog, budaya, serta nilai-nilai kemanusiaan bersama.
Selain itu, kompleks ini akan menjadi sumber utama bagi sektor nirlaba dan budaya di Houston, menyediakan ruang untuk pertemuan, seminar, kuliah umum, serta pertunjukan.
Putra Rahim Aga Khan V mengatakan, bangunan ini mungkin dikenal sebagai Ismaili Center, tetapi bukan hanya milik umat Ismaili.
“Ia adalah untuk seluruh warga Houston, tempat yang terbuka bagi siapa pun yang mencari ilmu pengetahuan, refleksi, dan diskusi,” kata Rahim.
Wali Kota Whitmire juga mengapresiasi Pusat ini sebagai simbol baru yang mencerminkan semangat terbaik Houston yaitu keragaman, kasih sayang, dan komitmen terhadap masyarakat.
Di dalam Pusat Ismaili, pengunjung akan menemui pameran seni, teater black box, kafe, ruang kelas, serta Jamatkhana.
Dengan tenaga kerja yang sebagian besar terdiri dari relawan, Pusat ini menegaskan semangat Ismaili dalam pelayanan, pertukaran intelektual, dan kemanusiaan bersama, menjadikannya sebagai simbol kebukaan.






