Ringkasan Berita:
- Keinginan Ketua Umum DPP Pro Jokowi (Projo) Budi Arie Setiadi untuk bergabung dengan Partai Gerindra belum mendapatkan respons dari Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.
- Meski demikian, Budi Arie dipastikan berhak bergabung dengan Partai Gerindra setelah memenuhi kriteria yang ditentukan partai.
- Namun, keinginan Budi Arie untuk bergabung dengan Gerindra mendapat penolakan dari sejumlah pengurus DPC Gerindra.
AdinJava, JAKARTA– Kemauan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi untuk bergabung dengan Partai Gerindra diperkirakan akan menghadapi berbagai tantangan.
Beberapa pengurus cabang Partai Gerindra secara terbuka menolak keanggotaan mantan relawan Joko Widodo di Partai Gerindra.
Sebelumnya, Budi Arie Setiadi menyampaikan keinginannya untuk bergabung dengan Partai Gerindra.
Budi Arie menyampaikan hal tersebut dalam Kongres III DPP PROJO, di Grand Sahid Jaya, Sabtu (1/11/2025).
Pernyataan Budi Arie menyatakan komitmennya untuk terus memberikan dukungan dan memperkuat partai yang dipimpin oleh Presiden RI Prabowo Subianto.
“Kami berkomitmen untuk memperkuat partai yang dipimpin oleh Presiden Prabowo, ya. Benar. Ya, pasti Gerindra,” ujar Budi Arie dalam jumpa pers setelah memberikan arahan dalam Kongres III DPP PROJO.
Hanya saja ketika ditanyakan kapan dirinya akan bergabung dengan Partai Gerindra, Budi Arie belum memberikan kepastian.
Saat ini ia masih fokus dalam memastikan keberhasilan agenda Kongres III DPP PROJO, yang juga mencakup pemilihan kembali sosok Ketua Umum untuk masa jabatan 2025-2030.
“Ya, segera. Kita nanti tunggu perkembangan di Kongres ketiga ini,” ujarnya.
Saat ditanya mengenai adanya arahan untuk mengajak seluruh kader DPP PROJO ke Partai Gerindra, ia menyerahkan keputusan tersebut kepada hasil dari Kongres.
“Ya nanti kita lihat perkembangannya. Belum ditentukan. Saya saat ini sudah mengajukan ke forum,” katanya.
Prabowo belum tahu
Ketua Dewan Kehormatan DPP Partai Gerindra Ahmad Muzani pada awalnya menanggapi keinginan Budi Arie untuk bergabung.
Muzani, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI, menyatakan bahwa niat Budi Arie untuk bergabung dengan Partai Gerindra belum diketahui oleh Prabowo Subianto.
Ia menyampaikan bahwa hingga saat ini, ia belum berjumpa dengan Prabowo untuk membicarakan hal tersebut.
“Belum. Saya belum bertemu presiden sejak berita ini muncul,” ujar Muzani saat diwawancarai oleh awak media di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Namun, siapa pun dapat bergabung dengan Partai Gerindra selama memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh partai tersebut.
“Secara prinsip, Partai Gerindra adalah partai yang terbuka. Partai yang menerima anggota dari mana pun. Yang penting satu, sudah berusia 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah, yang kedua dia warga negara Indonesia,” kata
Setiap pihak yang telah memenuhi persyaratan tersebut maka ketentuan untuk bergabung dengan Partai Gerindra sudah terpenuhi, termasuk bagi Budi Arie.
“Memenuhi kriteria tersebut, saya rasa kami bisa menerima siapa pun dari mana pun. Apalagi Budi Arie yang menurut saya kita semua sudah mengenalnya,” ujarnya.
Sejumlah DPC menolak
Dikutip dari Kompas.tv, setidaknya terdapat tiga Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra yang mengajukan permintaan kepada DPP untuk mempertimbangkan mantan Menteri Koperasi dan Komunikasi serta Informatika (Kominfo) menjadi anggota partai.
Kantor DPC Partai Gerindra Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), menolak Budi dengan berbagai alasan.
Ketua DPC Gerindra Pematangsiantar, Gusmiyadi menganggap rencana Budi Arie bergabung dengan Gerindra sebagai tindakan pragmatis untuk menjaga diri dari kemungkinan ancaman hukum terkait kasus di Kominfo.
Diketahui nama Budi Arie tercantum dalam surat dakwaan keempat tersangka. Surat dakwaan yang dibacakan oleh JPU dalam persidangan kasus pengamanan situs judol di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel), Rabu (14/5/2025), menyebutkan bahwa Budi Arie Setiadi mendapatkan 50 persen saat menjabat sebagai Menteri Komunikasi dan Informatika.
Selain itu, Gusmiyadi menganggap Budi Arie juga bergabung dengan maksud mendapatkan posisi penting dari Prabowo.
“Langkah yang realistis ini dianggap sebagai cara untuk menghindari kasus hukum yang mungkin akan menimpanya, sementara itu Budi Arie tentu berharap masih bisa memegang posisi penting di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo,” kata Gusmiyadi, Jumat (7/11/2025).
Di sisi lain, anggota DPRD Sumut ini, jika Budi Arie bergabung, keyakinan masyarakat terhadap Prabowo bisa menurun karena Ketua Umum Gerindra tersebut dianggap sedang fokus pada pemberantasan korupsi.
Belum lagi pernyataan Budi Arie mengenai logo Projo yang akan berubah, serta menyanggah jika Projo merupakan kependekan dari Pro Jokowi dianggap sebagai tindakan yang tidak etis.
Baru-baru ini pernyataan Budi Arie mengenai makna nama Projo dan hubungannya dengan logo wajah Jokowi dianggap sebagai tindakan tidak sopan dalam bermain catur politik. Penyangkalan Budi Arie sebelumnya bahwa Projo bukan singkatan dari Pro Jokowi tetapi artinya rakyat dan negeri dinilai sebagai langkah yang tidak pantas dan tidak konsisten.
“Secara sederhana, masyarakat menganggap Budi Arie ingin mencari perlindungan politik dan menjaga peluang untuk mendapatkan kekuasaan dalam kepemimpinan Prabowo sebagai Presiden,” tutupnya.
Penolakan dari DPC Makassar
Selain DPC Gerindra Pematangsiantar, DPC Gerindra Kota Makassar secara tegas menyatakan penolakan terhadap rencana keterlibatan tokoh relawan Jokowi.
Penolakan ini muncul karena kekhawatiran mendalam terhadap gangguan konsistensi perjuangan dan harmonisasi internal partai di ibu kota Sulawesi Selatan.
Ketua DPC Partai Gerindra Kota Makassar, Eric Horas menyatakan, Partai Gerindra bersedia menerima siapa pun yang memenuhi kriteria umum dan memahami tujuan perjuangan partai.
Menurutnya, menjadi bagian dari Gerindra memerlukan komitmen yang jauh lebih besar daripada dukungan terhadap seseorang tertentu di masa lalu.
“Kami berharap agar siapa pun yang bergabung dengan Gerindra tidak hanya karena situasi politik tertentu, tetapi karena memiliki komitmen jangka panjang terhadap tujuan perjuangan partai,” katanya.
Penolakan dari DPC Semarang
Ketua DPC Gerindra Kota Semarang, Joko Santoso mengungkapkan bahwa rencana Budi Arie untuk bergabung ke Gerindra menjadi topik diskusi internal.
Menurutnya, kader di tingkat bawah tidak menginginkan Gerindra menjadi “alat politik” yang digunakan oleh mantan relawan tim pemenangan Joko Widodo dalam Pemilu Presiden 2014 dan Pemilu Presiden 2019.
“Kita menyoroti terkait isu tentang keinginan Budi Arie masuk ke Partai Gerindra. Jangan sampai Gerindra menjadi pelindung politik,” kata Joko, dilaporkan oleh Kompas.com, Jumat (7/11/2025).
Walaupun memberikan catatan, Joko menegaskan bahwa Gerindra tetap menjadi partai yang bersifat terbuka bagi siapa saja.
“Siapa saja berhak untuk bergabung selama memiliki satu tujuan dalam memperjuangkan kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara,” katanya.
Baca berita Adin Javalainya di WhatsApp.
Baca artikel AdinJavalainnya di Google News.






