Sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Parlemen Iran mendorong pemerintah untuk menutup Selat Hormuz. Rencana ini menjadi kekhawatiran menyusul kemungkinan terjadinya krisis minyak dunia.
TEHERAN, tujuhmenit.com,- Parlemen Iran dilaporkan telah mengambil langkah tegas untuk menutup Selat ini. Namun, seperti yang dilansir CNBC, Minggu (1/3/2026), keputusan akhir akan bergantung pada persetujuan dewan keamanan nasional Iran.
Jika direalisasikan, langkah ini merupakan yang pertama kalinya dilakukan Iran sejak dimulainya konflik dengan Israel pada 1979. Selat Hormuz merupakan salah satu jalur laut paling strategis di dunia, yang menjadi rute bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global.
Republik Islam Iran saat ini berada pada posisi terdekatnya untuk mengambil tindakan penutupan Selat Hormuz. Sebelumnya, beberapa analis bersikap skeptis terhadap ancaman serupa karena secara historis Iran lebih memilih langkah-langkah terukur.
Namun, insiden yang menargetkan pimpinan tertinggi mereka baru-baru ini berpotensi mengubah pendekatan tersebut dan mendorong Teheran untuk mengambil tindakan yang lebih berdampak pada ekonomi global.
Pentingnya Strategis Selat Hormuz
Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer. Meski ukurannya kecil, selat ini menjadi penghubung vital antara Teluk Persia yang kaya minyak dengan seluruh dunia. Hal ini menjadikannya salah satu jalur laut tersibuk dan paling strategis di Bumi.
Sekitar 22% atau hampir seperempat pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Sekitar 20% perdagangan global gas alam cair (LNG) juga melewati Selat Hormuz pada 2022.
Selain minyak, Selat ini juga digunakan untuk mengangkut gas alam cair (LNG), petrokimia, dan barang-barang penting lainnya.
Keamanan dan stabilitas jalur ini sangat penting untuk memastikan perdagangan global tetap berjalan lancar. Jika Selat ini diblokir atau terganggu, konsekuensinya bisa sangat serius terhadap harga energi global, rantai pasok, dan ekonomi di seluruh dunia.
Selat Hormuz berbatasan dengan beberapa negara, masing-masing memiliki kepentingan dan pengaruhnya sendiri di kawasan.
Di sisi barat ada Uni Emirat Arab (UEA) dan Oman, sementara Iran menguasai pantai utara, dan Arab Saudi serta Bahrain berada di sisi seberangnya. Kedekatannya dengan negara-negara kuat dan sumber daya vital menjadikan Selat Hormuz sebagai pusat ketegangan geopolitik. (Umay)






