WASHINGTON, tujuhmenit.com- Kondisi darurat nasional dinyatakan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Selain itu, Trump juga mengancam akan mengenakan tarif tinggi pada negara yang memasok minyak ke Kuba.
Secara dramatis, Trump meningkatkan tekanan pada Havana, setelah operasi militer AS di Venezuela memutus akses negara kepulauan itu dari sumber energi terpentingnya.
Setelah menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro awal bulan ini, AS telah mengarahkan pandangannya ke Kuba, yang menurut Trump “Siap untuk jatuh” berikutnya.
Dalam perintah eksekutif yang ditandatangani pada hari Kamis (29/1/2026), Trump menyebut Kuba sebagai “ancaman yang tidak biasa dan luar biasa” bagi keamanan nasional AS. “Amerika Serikat tidak mentoleransi sama sekali tindakan sewenang-wenang rezim komunis Kuba,” bunyi perintah tersebut, seperti dikutip dari Russia Today, Jumat (30/1/2026).
“Saya menemukan bahwa kebijakan, praktik, dan tindakan Pemerintah Kuba secara langsung mengancam keselamatan, keamanan nasional, dan kebijakan luar negeri Amerika Serikat,” kata Trump.
Perintah itu menetapkan mekanisme untuk memberlakukan tarif tambahan yang berpotensi berat pada impor dari negara mana pun yang terbukti secara langsung atau tidak langsung menjual atau memasok minyak ke Havana.
Perintah tersebut memberikan wewenang luas kepada Menteri Luar Negeri dan Menteri Perdagangan AS untuk mengidentifikasi pelanggar dan merekomendasikan tingkat tarif kepada presiden.
Langkah Trump meformalkan dan mengintensifkan blokade energi de facto yang telah diperketat selama beberapa minggu. Operasi militer AS yang menculik Maduro pada 3 Januari lalu telah memutus sumber utama minyak mentah Kuba.
Tekanan selanjutnya pada Meksiko, pemasok terakhir Havana, telah membuat negara warisan Fidel Castro itu menghadapi kekurangan yang parah.
Trump memprediksi pada hari Selasa bahwa pemerintah Kuba akan “segera jatuh”, dengan membual bahwa pemutusan pasokan minyak dan pendapatan Venezuela telah mendorong Havana ke ambang kehancuran.
Menurut perusahaan data Kpler, Kuba hanya memiliki cadangan minyak yang cukup untuk 15 hingga 20 hari. Negara itu sudah mengalami pemadaman listrik harian, dan para analis memperingatkan akan terjadinya keruntuhan ekonomi dan krisis kemanusiaan tanpa pasokan ulang yang cepat.***






