Tujuhmenit – Tokoh Denny Siregar menjadi viral di media sosial setelah memberikan komentar terkait penentuan status tersangka Roy Suryo dan kawan-kawannya dalam kasus ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Di media sosial X, @Dennysiregar7, tokoh media sosial tersebut menganggap penunjukan Roy Suryo dan kawan-kawannya sebagai tersangka justru disambut dengan gembira oleh mereka.
“Roy Suryo dkk pasti gembira jika menjadi tersangka,” tulis Denny Siregar pada Jumat (7/11/2025).
“Karena pengadilan merupakan panggung yang besar. Kondisi ini justru menguntungkan mereka,” tambahnya.
Saat dihubungi, Roy Suryo menyatakan menghormati keputusan yang diambil oleh Polda Metro Jaya.
Roy Suryo juga menegaskan akan mematuhi seluruh proses hukum yang berlaku, sambil mengingatkan bahwa status tersangka tidak secara otomatis membuat seseorang menjadi terdakwa atau terpidana.
Selain merespons pengangkatannya, Roy juga menyentuh mengenai buron bernama “SM” atau Silfester Matutina, yang hingga saat ini masih bebas meskipun telah dihukum selama enam tahun secara inkrah.
“Adanya pengumuman dari Polda Metro Jaya pada Jumat siang, sebagai seorang pengamat telematika yang memiliki hak intelektual untuk melakukan penelitian ilmiah terhadap dokumen publik yang seharusnya diteliti (terutama telah dituangkan dalam buku ‘Jokowi’s White Paper’), saya tetap menghormati keputusan tersebut,” ujar Roy melalui pesan singkat kepada Kompas.com, Jumat (7/11/2025).
“Namun, perkembangan selanjutnya sebaiknya semua mengikuti proses hukum yang berlaku, karena status ‘tersangka’ ini belum tentu menjadi ‘terdakwa’, apalagi ‘terpidana’,” katanya.
“Namun ada buron di Indonesia yang sudah ‘terpidana’ dan telah menjalani enam tahun hukuman tetap, masih ada yang bebas berkeliaran tanpa menghormati hukum sampai sekarang yang berinisial ‘SM’,” tambahnya.
Sosok Denny Siregar
Denny Zulfikar Siregar dilahirkan di Medan, 3 Oktober 1973.
Nama keluarga Siregar diperolehnya dari ayahnya yang bernama Nawir Siregar.
Meskipun lahir di wilayah Sumatera, Denny Siregar sering kali pindah-pindah tempat bersama orang tuanya.
Saat masih kecil, Denny Siregar tinggal di Bangung, Jawa Barat. Setelah menginjak remaja, ia pindah ke Jakarta.
Kemudian, pindah ke Surabaya hingga menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.
Denny pernah tinggal di Bali dan bekerja di sebuah perusahaan internasional.
Ia juga pernah memperoleh penghargaan The Best National Sales saat bekerja di sana.
Awal kariernya dimulai ketika ia bekerja di Radio Suara Surabaya sejak masih menempuh pendidikan sebagai mahasiswa dan mengambil ilmu jurnalistik di sana.
Denny juga aktif sebagai penulis dengan beberapa judul buku seperti Tuhan dalam Secangkir Kopi, Ngopi Bareng Denny Siregar, Bukan Manusia Angka, Semua Melawan Ahok, serta Jokowi: The Art of War.
Denny juga terkenal sebagai pemilik dan pengelola saluran YouTube COKRO TV, yang fokus pada berbagai topik menurut pandangannya, termasuk isu politik dan agama.
Tolak Jabatan Komisaris BUMN
Denny Siregar pernah menjadi perbincangan hangat setelah menolak posisi komisaris BUMN yang diusulkan oleh Menteri BUMN, Erick Thohir.
Alasannya, terkait dengan sandal jepit. Bagi Denny, posisi sebagai komisaris BUMN adalah jabatan yang membuatnya harus bekerja di kantor dengan seragam formal.
Denny mengakui bahwa ia lebih memilih menggunakan sandal jepit saja karena terasa lebih nyaman.
Produser Film
Denny Siregar pernah menjabat sebagai produser film Sayap-Sayap Patah (2022) yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Ariel Tatum.
Film ini diambil dari peristiwa Mako Brimob 2018 ketika sejumlah tahanan di markas kepolisian melakukan pemberontakan.
Selain film Sayap-Sayap Patah, Denny juga bertindak sebagai produser Kupu-Kupu Kertas (2024). Film tersebut mengangkat kisah yang berdasarkan pemahaman Denny Siregar terhadap peristiwa tahun 1965.
Namun, hanya tiga hari film tersebut tayang di bioskop, Kupu-Kupu Kertas tiba-tiba dihentikan peredarannya.






