Refleksi Isra’ Mi’raj Yang Bisa Kita Petik Dalam Kehidupan Sehari-Hari

- Editor

Senin, 12 Januari 2026 - 13:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.(foto.net)/tujuhmenit.com

Ilustrasi Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.(foto.net)/tujuhmenit.com

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa luar biasa yang terjadi di bulan Rajab dan secara langsung menunjukan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.  Peristiwa yang terjadi pada tanggal 27 Rajab (620-621 M)  atau 10 tahun setelah kenabian,  adalah diperjalankannya Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang diteruskan ke Sidratul Muntaha.

Adapun perjalanan Rasulullah SAW saat Isra Mi’raj ini diabadikan dalam surat Al-Isra ayat [17]:1 yang artinya:

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam perjalanan yang dikawal Malaikat Jibril tersebut, Rasulullah menerima perintah salat lima waktu setelah diangkat ke langit. Maka sudah pasti melaksanakan Shalat merupakan kewajiban yang mutlak harus dilaksanakan umat Islam.

Secara etimologis, Isra berarti perjalanan malam hari, sedangkan Mi’raj berarti kenaikan. Dalam konteks peristiwa ini, Isra merujuk pada perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah ke Masjidil Aqsa di Palestina sejauh 1.500 Km.  Sementara itu, Mi’raj menggambarkan kenaikan beliau dari Masjidil Aqsa ke langit ketujuh hingga mencapai Sidratul Muntaha. Peristiwa ini terjadi dalam satu malam dan menjadi bukti kekuasaan Allah SWT.

Perjalanan mukjizat ini pada awalnya telah mengundang keraguan dikalangan masyarakat Makah. Bagaimana tidak, jarak Mekah-Palestina yang kurang lebih 1.500 km dan pada masa  itu memerlukan waktu tempuh sekitar satu bulan. Terlebih lagi dalam perjalanan itu,  Rasulullah naik  melewati langit tujuh sampai ke Sidratul Muntaha. Mereka berpikir tak mungkin dilakukan dalam waktu kurang dari satu malam.

Peristiwa ini tentu saja bukan  karangan fiktif belaka, mengingat Nabi adalah pribadi yang jujur terpercaya. Bagi Allah SWT semuanya sangat memungkinkan.  Berkat tabayyunnya Abu Bakar inilah, setiap cerita yang disampaikan Nabi tidak pernah meleset dan sesuai dengan apa yang pernah dilihatnya. Tidak berlebihan jika Abu Bakar menyakininya. Inilah mengapa Abu Bakar diberi gelar “Ash-Shiddiq” (yang membenarkan), karena dialah satu-satunya orang yang yakin, sangat percaya atas yang diceritakan Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga  Terhapus Dosa dan Terkabulnya Hajat, Inilah Fadilah Bershalawat Pada Rasulullah

Sebagaimana yang disampaikan Taufiqurohman, M.H., Dosen Muda Program Studi Hukum Keluarga Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dalam peristiwa Isra’ dan Mi’raj banyak mengandung pelajaran yang patut diambil teladannya:

Pertama, senantiasa bertabayyun dalam menerima setiap kabar yang sampai kepada diri kita. Sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar kepada kekasihnya Nabi Muhammad saat mendengar peristiwa bersejarah di atas. Tujuannya, memastikan bahwa kabar tersebut benar faktanya, baik bagi yang mendengarkannya, memiliki dimensi kemanfaatan bagi semua, dan tentu sarat dengan pahala.

Kedua, Isra’ yang berarti “perjalanan” dalam waktu singkat adalah cerminan perjalanan seluruh kehidupan manusia di dunia ini. Betapa cepatnya waktu berputar setiap hari,  tanpa dapat ditahan laju geraknya searah jarum jam, terlebih dengan kecanggihan tekhnologi yang semakin mendekatkan yang jauh dan menyingkatkan yang panjang. Tanpa disadari, tubuh mulai merasakan penuaan, rambut mulai memutih, usia tak muda lagi.

Ketiga, kehidupan manusia ibarat sebuah perjalanan, dimulai level yang terendah menuju tingkat yang lebih tinggi, ibarat manusia lahir kemudian menjadi bayi, anak, remaja, dewasa hingga tua. Setiap momen perjalanan tersebut bertemu dengan banyak orang dan pengalaman. Setiap peristiwa itu menempa kita menjadi pribadi yang semakin matang dan naik kelas. Maka, sesungguhnya dalam peristiwa Mi’raj merefleksikan diri kita semakin jauh perjalanan itu semakin menempatkan kaki ini ke tempat yang lebih tinggi. Sebab Mi’raj dimaknai dengan ‘naik ke tempat yang lebih tinggi’ atau ‘mencapai puncak tertinggi’ di luar bumi yang kita pijak.

Keempat, diceritakan dalam kitabnya Ahmad Ad-Dardiri Ala Qishshati Mi’raj bahwasanya Rasulullah SAW dalam perjalanannya setelah menjalankan sholat bersama para Nabi di Baitul Maqdis, Jibril datang dengan membawa dua cawan yang berisi susu dan arak yang segar. Rasulullah dihadapkan dua pilihan yang ditawarkan jibril, arak/khamr atau susu, kemudian Rasul memilih untuk mengambil susu. Hidup adalah pilihan, setiap kita boleh menentukan sendiri dengan bebas pilihannya. Namun perlu digaris bawahi bahwa setiap hal yang dipilih memiliki konsekuensi. Peristiwa di atas mengajarkan bahwa setiap manusia dituntut untuk menentukan pilihan dalam hidupnya, bukan sekadar dua pilihan, tiga, empat, atau lima, bahkan puluhan pilihan-pilihan. Maka, pilihlah setiap langkah hidup yang dijalani ini dengan penuh keyakinan dan pertanggungjawaban.

Baca Juga  Potensi Kembali Berbedanya Awal Puasa 2026? Antara Pemerintah, NU dan Muhammadiyah

Kelima, Isra’ Mi’raj menjadi sangat penting karena banyaknya persitiwa di dalamnya. Di antara peristiwa saat Isra’ Mi’raj adalah nabi membawa perintah sholat, berjumpa dengan para nabi lainnya, hingga lebih dari itu, berjumpa dengan Allah SWT. Pertemuan yang merupakan dambaan setiap hamba beriman untuk bersujud langsung ‘dihadapan’ Rabbnya, yang dalam bahasa tasawuf dikenal dengan istilah hidup zuhud dan wara’. Hal ini adalah spiritualitas tertinggi, kebahagiaan yang hakiki dan cukuplah baginya, tanpa perlu hal lainnya di dunia ini. Sebab kemampuan berjumpa dengan Allah adalah bentuk keridhoan-Nya atas hamba tersebut. Akan tetapi, apakah Nabi Muhammad merasa cukup dan tak mau kembali ke bumi? Nabi kembali lagi ke bumi untuk mengemban risalah Islam dan melanjutkan dinamika perjuangan dengan berbagai tantanganya. Inilah sesungguhnya pribadi agung yang paling utama, setelah semua laku spiritual tercapai, ia tetap ingat atas tugas di dunia, yakni membangun peradaban dan membimbing umat menuju keridhoan-Nya.***

Berita Terkait

Jam Kerja ASN di Pemkot Cimahi Berkurang 60 Menit Selama Ramadhan
Potensi Kembali Berbedanya Awal Puasa 2026? Antara Pemerintah, NU dan Muhammadiyah
Kapan Malam Nisfu Sya’ban 2026? Amalan Apa Saja yang Dianjurkan? 
Perbanyak Shalawat kepada Nabi Muhammad di Bulan Ini!!! 
Jangan Lewatkan! Inilah 7 Keutamaan Bulan Rajab dan Amalan Yang Harus Anda Ketahui
Terhapus Dosa dan Terkabulnya Hajat, Inilah Fadilah Bershalawat Pada Rasulullah
Inilah 5 Keutamaan Shalat Tahajud yang Harus Anda Ketahui!
Inilah 12 Fadilah Amalan Puasa Senin Kamis Yang Harus Diketahui

Berita Terkait

Senin, 2 Maret 2026 - 11:31 WIB

Iran Turup Selat Hormuz, Krisis Minyak Dunia Bakal Terjadi

Rabu, 4 Februari 2026 - 13:50 WIB

Terima Suap, Mantan Petinggi Majelis China Divonis Seumur Hidup

Senin, 2 Februari 2026 - 22:11 WIB

IRGC Dianggap Teroris! Iran Meradang, Panggil Dubes Uni Eropa

Jumat, 30 Januari 2026 - 17:16 WIB

AS Darurat Nasional, Trump Ancam Pemasok Minyak ke Kuba

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:28 WIB

Korban atau Pelaku Scam? Ribuan WNI Minta Dipulangkan dari Kamboja

Senin, 26 Januari 2026 - 15:38 WIB

Perang Dunia 3 Pecah!!! Inilah Wilayah Aman, Salah Satunya Indonesia?

Senin, 10 November 2025 - 09:01 WIB

Tanggal 3 Januari 2026 Diperingati sebagai Hari Apa? Ini Daftar Hari Penting Nasional dan Internasional

Senin, 10 November 2025 - 02:15 WIB

2 Januari 2026 Jadi Hari Apa? Daftar Hari Besar Nasional dan Internasional

Berita Terbaru

Wakil Presiden ke-6 RI, Jenderal Purn. Alm. Try Surtisno.

Nasional

Indonesia Berduka, Try Sutrisno Tutup Usia

Senin, 2 Mar 2026 - 11:18 WIB