BANDUNG BARAT, tujuhmenit.com- Aktivitas pertambangan batu andesit di Gunung Karang, Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, menjadi perhatian warga di Desa Karangsari dan Sarinagen. Merka menghawatirkan terjadinya musibah longsor seperti di Cisarua, Kamis (29/1/2026).
Berdasarkan informasi, kegiatan tambang untuk pembangunan PLTA Upper Cisokan ini telah menyebakan polusi udara dan getaran yang mengancam rumah warga. Bahkan pada Senin (28/4/2025) lalu, tambang tersebut sempat didemo warga.
Aktivitas tambang andesit ini merupakan penambangan batu vulkanik jenis andesit yang dilakukan dengan metode tambang terbuka (quarry). Blasting atau peledakan dilakukan untuk memecahkan batuan di lokasi tambang. Tambang ini digunakan untuk konstruksi PLTA Upper Cisokan.
Baru-baru ini beredar video di medsos memperlihatkan aktivitas blasting di Gunung Karang. Video tersebut menjadi sorotan, karena warga yang merekam kejadian itu merasa resah atas aktivitas pertambangan tersebut. Terlebih blasting dilakukan di saat musim hujan seperti saat ini.
Perekam menyebut aktivitas peledakan di Gunung Karang itu bukan sekali ini terjadi. Mulanya video tersebut viral dibagikan akun TikTok @damipedelweis.Video, memperlihatkan detik-detik peledakan yang dilakukan di atas bukit.
Keresahan warga muncul setiap aktivitas blasting atau peledakan batu andesit dilakukan di area pertambangan yang lokasinya dekat dengan permukiman.
Sebuah video yang berdar, memperlihatkan kepanikan warga saat peledakan dilakukan. Dalam rekaman tersebut terdengar teriakan ketakutan dan suara warga yang mengingatkan untuk menjauh dari lokasi. Beberapa warga tampak berlari menjauhi area peledakan.
Bahkan ada juga warga yang memilih berlindung di dalam rumah. Warga mengaku merasa cemas setiap kali blasting dilakukan. Getarannya terasa sampai ke dalam rumah, hingga kaca jendela dan dinding rumah bergetar.
Warga juga mengeluhkan minimnya informasi dari pihak pengelola saat peledakan dilakukan. Menurut mereka, suara ledakan yang menggelegar kerap terjadi secara tiba-tiba tanpa pemberitahuan.
“Ledakan terjadi begitu saja tanpa ada pemberitahuan. Akibatnya, tidak punya waktu untuk mengamankan diri,” kata salah seorang warga, Dedi (50).
Kondisi ini menimbulkan trauma dan tekanan psikologis warga. Bahkan diantara mereka mengaku sulit beristirahat dengan tenang, karena selalu dihantui terjadinya ledakan.
Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pengelola tambang maupun instansi terkait, mengenai aktivitas peledakan tersebut. Termasuk mengenai perizinan, standar keselamatan, serta dampak lingkungan yang ditimbulkan.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap aktivitas pertambangan yang dikeluhkan tersebut.***






