JAKARTA, tujuhmenit. com – Di balik kisruh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang berujung pada pencopotan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf, tersiar jabar ada persoalan lain yang terjadi di tubuh PBNU. Rebutan pengelolaan tambang disebut-sebut menjadi akar masalah atas segala peraoalan yang terjadi.
Berdasar sumber yang dihimpun tujuhmenit. com dari berbagai sumber, setelah PBNU mendapatkan konsensi pengelolaan tambang dari Pemerintah berdasar Perpres No. 25 Tahun 2024, ada dua pengusaha yang digadang-gadang akan mengelola tambang jatah PBNU.
Dari dua perusahaan tambang yang ingin bermitra dengan perusahaanya PBNU, PT. Berkah Usaha Muamalah Nusantara (BUMN), satu pengusaha adalah kolega Menterian ESDM, Bahlil Lahadalia dan satu lagi kolega di lingkaran Istana. Dari sanah sumber terjadilah conflict of interest di tubuh PBNU.
Seperti yang dikutip pada Kompas.com, Kamis (27/11/2025), Katib Syuriyah PBNU, KH Sarmidi Husna membantah adanya polemik perebutan pengelolaan tambang di internal PBNU.
“Enggak ada sama sekali. Masalah tambang bukan jadi dasar dalam masalah ini, ” katanya.
Masih menurut Sarmidi, akar masalah pemberhentian Gus Yahya sudah tercantum dengan jelas dalam risalah rapat harian Syuriyah PBNU.
“Kalau masalah tambang, itu isu yang lain. Saya kira isu tambang itu berbeda,” tegasnya.
Diberhentikannya Gus Yahya, berkaitan dengan diundangnya akademikus zionis, Peter Berkowitz, dalam kegiatan Akademi Kepemimpinan Nasional NU.
Rapat harian Syuriyah PBNU pun menilai, hal tersebut melanggar nilai dan ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdiyah serta bertentangan dengan Muqaddimah Qanun Asasi NU. ***






