GARUT, tujuhmenit.com- Petani budidaya ikan di Citeureup, RW 8, Desa Tegalsari, Kec. Kadungora, Kab. Garut, mengalami gagal panen yang diduga kuat akibat pencemaran sungai Ciatur. Padahal musim panen di bulan puasa ini adalah saat yang ditunggu-tunggu. Bukannya mendapat keuntungan, mereka malah menderita kerugian.
“Gara-gara kolam di kasih air dari selokan terjadi kematian ikan banyak itu selalu di bulan puasa, seingat saya sudah 3 kali puasa,” kata salah seorang petani, Ronny Yaya, Jumat (6/3/2026).
Masih kata Ronny, tadinya para petani berharap adanya keuntungan dalam kegiatan usahanya tersebut. Namun akibat kondisi air yang tercemar, mereka harus gigit jari.
“Kalau ikan nila dan bawal per kilo harganya Rp 30 ribu, jadi kurang lebih Rp 60 juta kerugian gara-gara air sungai yang kotor dan airnya hitam,” katanya.
Lanjut Ronyy, tadinya ikan-ikan tersebut mau di panen sebelum lebaran, namun kenyataan berkata lain. Ikan-ikan tersebut bergelimpangan mati setelah dia memanfaatkan air sungai Ciatur ke kolam-kolam ikannya.
“Korbannya bukan hanya saya, ada tiga kolam lainnya yamg berdekatan dengan kolam saya juga menjadi korban,” katanya.
Sehubungan dengan persoalan tersebut pihaknya mengharapkan adanys solusi dari Dinas Lingkungan Hidup (LH). Karena dugaan pencemaran tersebut sudah berlangsung sekitar 3 tahun.
“Saya minta ada solusi dari LH selama ini apa atau bagaimana ? masih harus menunggu saya bangkrut dulu atau warga yang lain mengalami kerugian terus baru di benahi itu sungai Cicatur nya?,” keluhnya.
Ditegaskan Ronny, petugas dari LH Kab. Garut sempat datang sekali untuk menanggapi masalah yang dikeluhkan para petani. Namun sampai saat ini, tidak ada tidak lanjutnya.
“Dari Dinas LH Kabupaten Garut, pernah datang sekali ke kandang saya itu pun tidak ada solusinya,” jelasnya.
Ronny mendesak agar Dinas LH segera memeriksa aliran sungai Cicatur. Dan pihaknya berharap, agar aliran sungai tersebut bisa kembali normal seperti sebelumnya dan bisa dimanfaatkan oleh warga untuk budidaya perikanan. (mail)






