Kota Cimahi, tujuhmenit.com – Isu yang mengaitkan Wakil Wali Kota Adhitia Yudisthira sebagai calon Wali Kota Cimahi untuk Pemilihan Kepala Daerah tahun 2030 ramai dibahas. Beragam tanggapan telah muncul, mulai dari kalangan akademisi, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, LSM hingga anggota DPRD. Kini, politisi Partai Golkar, Haris Faisal ikut menyampaikan sebuah pandangan objektifnya.
Menurutnya, membahas pencalonan untuk lima tahun ke depan saat ini sungguh belum tepat waktu atau terlalu dini. “Membicarakan hal tersebut sekarang adalah langkah yang terlalu mendahului, padahal pemerintahan yang sedang berjalan saja baru saja memulai masa kerjanya,” ujar Haris Faisal, Rabu (29/7/2026).
Dalam pandangan tata kelola pemerintahan yang baik, legitimasi seorang pemimpin diukur dari upaya nyata mensejahterakan rakyat, bukan sekadar pencitraan di media sosial. “Seorang pemimpin seharusnya memusatkan perhatian pada capaian kinerja periode yang sedang diemban, bukan sibuk memikirkan pencalonan periode selanjutnya,” tegasnya.
Haris pun memiliki pengalaman terkait Kota Cimahi, yang mana sebelumnya ia pernah bertarung dalam pemilihan di Daerah Pemilihan Jawa Barat 1 yang meliputi wilayah Cimahi dan Kota Bandung.
Dari pengamatan dan pengalamannya, masih banyak persoalan mendasar di Cimahi yang menuntut penanganan serius. Mulai dari kualitas infrastruktur, tata ruang, pengelolaan lingkungan, kemacetan, penanganan sampah, peningkatan pelayanan publik, penguatan UMKM, penciptaan lapangan kerja, hingga perbaikan kualitas pendidikan dan kesehatan.
“Masyarakat lebih membutuhkan solusi nyata, bukan narasi politik yang terburu-buru mengarah pada suksesi kekuasaan,” tutur Haris.
Demokrasi yang sehat memberi ruang bagi pemimpin untuk membuktikan kemampuan lewat hasil kerja, bukan sekadar ucapan untuk membangun popularitas. Jika energi justru habis tersedot perdebatan dan klarifikasi, padahal seharusnya difokuskan pada target pembangunan, realisasi janji, dan kesejahteraan rakyat. Penilaian publik akan datang sendiri secara adil jika kinerja sudah terbukti.
Komunikasi politik memang diperlukan, namun yang paling efektif adalah keberhasilan program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. Kontestasi politik punya waktunya sendiri; saat ini adalah waktu untuk bekerja, membangun kepercayaan, dan membereskan urusan yang masih menumpuk.
“Politik yang dewasa bukan sibuk menebak siapa pemimpin nanti, tapi menjawab apa yang rakyat butuhkan hari ini. Warga tidak menunggu siapa calon berikutnya, mereka menunggu bukti bahwa pemimpin yang dipercaya saat ini mampu membawa perubahan nyata bagi Kota Cimahi,” tegas Haris. (eri)






