Penipuan bermodus manipulasi dokumen keberangkatan terjadi di Kabupaten Sukabumi. Sebanyak 14 orang jemaah umroh menjadi korban. Dokumen berupa tiket pesawat hingga visa, hasil manipulasi digital.
SUKABUMI, tujuhmenit.com- Kasus penipuan tersebut kini sudah dalam penanganan Polres Sukabumi. Kasus tersebut kini masih dalam tahap penyidikan.
Seperti dilansir detik.com, Kamis (26/2/2026), kuasa hukum korban, Afrianto, menegaskan bahwa kliennya, Ucup Junansyah dan menantunya, Zulfat, telah ditipu oleh pimpinan travel berinisial AH yang berkantor di wilayah Kecamatan Bojonggenteng.
Kedua korban tertupu sampai Rp 500 juta, karena merasa tanggung jawab harus memberangkatkan 14 orang jemaah ke tanah suci.
“Klien kami baru tahu malam itu di bandara bahwa semuanya palsu, semuanya diedit. Karena rasa tanggung jawab kepada jemaah, klien kamilah yang akhirnya menalangi seluruh biaya keberangkatan itu,” jelas Afrianto.
Masih kata Afrianto, Penyidik sudah mengirimkan surat panggilan kedua dan surat penjemputan pun sudah keluar. Namun, sampai saat ini keberadaan terlapor belum diketahui.
“Diduga kuat terlapor ini melarikan diri,” katanya.
Sementara berdasar keterangan Ucup Junansyah dan menantunya, Zulfat. Mereka hendak memberangkatkan belasan jemaah ke Mekah pada November lalu. Namun, setibanya di maskapai dinyatakan dokumen mereka tidak valid.
“Tiba di sana, ternyata visa tidak ada, tiket tidak ada, apalagi hotel di sana juga tidak ada. Pokoknya tidak jadi berangkat, padahal uang sudah masuk semua ke dia,” ungkap Ucup Junansyah.
Masih kata Ucup, jemaah yang mayoritas warga perdesaan dan petani itu tak bisa menahan kesedihan, mereka menangis setelah mengetahui tertipu. Apalagi, sebelum berangkat, mereka sudah menggelar syukuran di kampungnya.
“Jemaah itu sudah menyiapkan semua, Pak. Yang punya bebek saja sudah dipotong satu-satu untuk syukuran. Sebelum berangkat, kami sampai menangis di sana (bandara). Empat malam kami menginap di bandara, luar biasa terpukul,” kenangnya
Merasa memikul beban moral yang besar, Ucup dan menantunya, Zulfat, akhirnya mengambil langkah berani demi menjaga harga diri dan kepercayaan jemaah. Keduanya rela merogoh kocek pribadi hingga ratusan juta rupiah sebagai dana talangan agar jemaah tetap bisa beribadah.
“Total kerugian awal yang kita berikan itu Rp 300 juta. Tetapi karena kami bertanggung jawab memberangkatkan jemaah, kami harus mengeluarkan dana talangan hingga totalnya mencapai kurang lebih Rp 500 juta,” tutur Zulfat. (Umay)






