BANDUNG, tujuhmenit.com- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara tegas membantah keterkaitan fenomena dentuman dan getaran yang mengguncang kawasan Bandung Raya ada kaitannya dengan erupsi Gunung Anak Krakatau maupun aktivitas tektonik lokal.
Misteri dentuman dan getaran yang mengguncang kawasan Bandung Raya, Jawa Barat terjadi pada Sabtu (5/9/2026) dini hari.
“Hipotesis pelepasan gas metana dari endapan material bekas Danau Purba Bandung kini menjadi salah satu acuan analisis sains kebumian,” kata Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Suaidi Ahadi dalam siaran pers virtual, seperti dilansir Tribunnews, Sabtu (5/9/2026).
Kata Suaidi Ahadi, jarak antara Selat Sunda dan Kota Bandung terlalu jauh untuk bisa merambatkan gelombang suara erupsi biasa, hal ini berbeda dengan letusan induk Krakatau pada 1883 silam.
“Menurut saya terlalu jauh untuk mendengar aktivitas dari letusan Gunung Krakatau yang kejadiannya seperti kemarin,” ujar Suaidi.
BMKG juga memastikan tidak ada rekaman aktivitas seismik saat dentuman terjadi. Sensor BMKG mencatat nihil getaran, baik dari swarm earthquake (rangkaian gempa kecil), runtuhan kawasan karst, maupun pergerakan sesar aktif seperti Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri.
Lantas, dari mana asal suara misterius yang mengagetkan warga tersebut?
Suaidi mengungkapkan, meski memerlukan riset mendalam dari para ahli kebumian, terdapat literatur ilmiah yang membuka kemungkinan fenomena skyquake ini dipicu oleh dinamika geologi purba di cekungan Bandung.
“Ini memang belum terjawab, tapi ada literatur yang menjelaskan bahwa aktivitas skyquake tadi mungkin berkaitan dengan adanya aktivitas gas metana yang ada di danau purba,” jelasnya.
Danau Bandung Purba adalah danau raksasa yang dulunya menggenangi seluruh kawasan Cekungan Bandung sekitar 210.000 hingga 16.000 tahun yang lalu.
Kota Bandung yang padat saat ini sebenarnya berdiri tepat di atas dasar kering dari danau purba tersebut. Hipotesis pelepasan gas metana dari endapan material bekas Danau Purba Bandung kini menjadi salah satu acuan analisis sains kebumian.
BMKG pun mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu liar, sembari menunggu hasil penelitian lanjutan dari para pakar geofisika dan meteorologi.***






