Miris, dunia pendidikan dipilukan dengan peristiwa seorang siswa SD, YBR (10), di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), melakukan bunuh diri lantaran faktor ekonomi.
JAKARTA, tujuhmenit.com.- Peristiwa yang memilukan ini menimbulkan duka mendalam berbagai kalangan, termasuk Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.
Dalam peristiwa yang terjadi akhir bulan Januari 2026 lalu, YBR, kelas 4 SD, sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli pulpen dan buku tulis demi keperluan dirinya belajar di sekolah.
Seperti yang dilansir Republika, YBR ditemukan oleh para saksi dalam kondisi menggantung. Tak jauh dari tempat kejadian perkara (TKP), ada secarik kertas yang memuat tulisan tangan anak tersebut dalam bahasa setempat: “Kertas Tii Mama Reti. Mama galo zee, Mama molo ja’o. Galo mata mae rita ee Mama. Mama jao galo mata. Mae woe rita nee gae ngao ee. Molo Mama.”
(“Surat buat Mama Reti. Mama saya pergi dulu. Mama biarkan saya pergi. Jangan menangis ya, Mama. Mama saya pergi. Jangan menangis, jangan mencari saya. Selamat tinggal Mama.”)
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat mengatakan, pihaknya menyatakan turut berduka cita atas kejadian ini.
“Peristiwa ini menjadi keprihatinan bersama dan kami menyampaikan empati kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak,” ujar Atip Latipulhayat dalam keterangan tertulis.
Ia menegaskan, pemerintah memandang peristiwa tragis ini sebagai kejadian yang sangat serius. Menurut Atip, tragedi ini menunjukkan bahwa kondisi emosional seorang anak dapat dipengaruhi pelbagai faktor yang saling terkait. Karena itu, perlu perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.
“Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks,” katanya.
Atip menjelaskan, peristiwa bunuh diri ini menjadi pengingat bagi seluruh pihak akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman dan suportif bagi tumbuh kembang anak. Dalam hal ini, sekolah bersama orang tua dan masyarakat berperan penting dalam membangun komunikasi terbuka sehingga anak merasa aman untuk mengekspresikan kerentanan mereka.***






