BANDUNG BARAT, tujuhmenit.com – Menyebrangi genangan Waduk Saguling dengan rakit bambu sepanjang 248 meter akan menjadi cerita bagi anak sekolah dasar (SD) di Kampung Sadang, RT 05, RW 02, Desa Budiharja, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, karena jembatan penyebrangan akan segera dibangun.
Patok yang dipasang menjadi titik awal pembangunan jembatan untuk memangkas waktu menuju SDN Budiharja yang berada di Kampung Gombong, RT 03, RW 05, Desa Budiharja. Karena jika tidak menyebrang, mereka harus menempuh perjalanan memutar sejauh 2,28 Km untuk sampai ke sekolah.
“Iya kemarin sudah dipasang patok, patok buat jembatan teh titiknya di Saung (Pondok),” kata Ketua RT 05, RW 02, Desa Budiharja, Agus Sumpena seperti dilansir Republika, Ahad (30/8/2026).
Masih menurut Agus, petugas telah datang menentukan titik koordinat dan melakukan pematok untuk pembangunan jembatan tersebut. Aktivis tersebut disambut warga dengan penuh antusias.
“Alhamdulillah, iya betul kemarin (Sabtu), ada petugas, tidak tahu suruhan dari Pak Gubernur atau siapa, kaya iya petugas dari Pak Gubernur. Sudah dipatok, sudah pakai titik koordinat, untuk pembangunan jembatan, sudah disurvei,” katanya.
Warga dan siswa sudah lama menggunakan rakit bambu untuk pergi ke sekolah atau menjalankan aktivitas lain, karena sangat memangkas waktu. Apalagi siswa kini diharuskan sudah berada di sekolaha pukul 06.30 WIB.
Agus menjadi salah satu saksi perjuangan para siswa di wilayahnya untuk menuntut ilmu dengan cara menyebrangi perairan Waduk Saguling menggunakan rakit bambu. Ia bersama warga lainnya bergiliran mengerek rakit untuk menyebrangkan anak sekolah.
“Kebetulan saya dan beberapa warga bertugas mengantar mereka secara bergantian. Mengantar dan menjemput juga. Ini sukarela aja buat bantu anak-anak,” ucap Agus.
Keberadaan rakit bambu itupun sangat disyukuri Santi Nur Setiani, orang tua siswa. Transportasi air tradisional berbahan bambu itu setiap hari mengantar anaknya pergi dan pulang sekolah demi mengenyam pendidikan di sekolah negeri.
“Biasanya jam enam lebih udah berangkat dari rumah. Kalau muter jauh jalannya, soalnnya enggak ada motor juga. Jadi ke sini lebih cepet,” ujarnya.
Kepala SD Negeri Budiharja Taufik menyampaikan, saat ini terdapat 16 siswa SD Negeri Budiharja yang masih menggunakan rakit. Mereka terdiri dari tiga siswa kelas 1, empat siswa kelas 2, tiga siswa kelas 3, tiga siswa kelas 5 dan tiga siswa kelas 6.
“Makanya untuk mempersingkat perjalanan anak-anak tersebut dan semangat untuk sekolah itu mungkin, saya mohon ada jembatan penyeberangan supaya mempercepat dan mempermudah anak-anak ke sekolah,” katanya. (Zamzam)***






