Neo Orba Dibalik Bayang-Bayang Pilkada Dipilih DPR

- Editor

Kamis, 8 Januari 2026 - 17:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti, dalam Podcast Abraham Samad Speak Up, Selasa (6/1/2026)./tujuhmenit.com

Pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti, dalam Podcast Abraham Samad Speak Up, Selasa (6/1/2026)./tujuhmenit.com

Seiring dengan munculnya wacana pemilihan kepala daerah melalui legislatif seakan menghidupkan Neo Orde Baru (Neo Orba), praktik politik yang mirip masa Orba dibawah rezim Soeharto (1966-1998), sebuah kekuasan yang kental dengan militeristik dan sifatnya yang otoriter.

Kekhawatiran ini dilontarkan pakar hukum tata negara, Bivitri Susanti, dalam Podcast Abraham Samad Speak Up, Selasa (6/1/2026).

“Nah kalo nanti situasi ini benar-benar terjadi, maka kepala daerah dipilih oleh DPR lagi. Kita juga akan benar-benar tidak punya suara sama sekali, tidak punya kontrol, tidak bisa meminta akuntabilitas dengan baik dalam konteks demokrasi pada orang-orang yang menduduki jabatan-jabatan kepala daerah itu,” kata Bivitri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wanita yang juga dikenal sebagai pegiat demokrasi ini mengatakan, zaman Orba pada saat presiden dipilih oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Soeharto telah memposisikan diri sebagai Presiden sebanyak 7 kali  pemilihan melalui MPR. Dan saat itu, MPR diasumsikan mewakili seluruh rakyat Indonesia.

“Padahal MPR itu juga dulu direkayasa oleh Orde Baru, sehingga isinya hanya dua partai, satu golongan karya, kemudian satu fraksi ABRI, utusan daerah dan utusan golongan,” katanya.

Pada masa Orba, jabatan kepala daerah dari Gubernur hingga Wali Kota dan Bupati dipilih oleh DPRD. Bahkan nuansa militeristik begitu kental menjadi atmosfir dalam struktur pemerintahan karena yang menjabat dipemerintahan adalah militer.

“Disadari atau tidak, sebagian kepala daerah waktu itu adalah militer. Begitu pula dengan banyak pejabat lainnya. Saya membayangkan suasana ini memang sangat-sangat persis seperti Orde Baru, kalau keputusan politik ini benar-benar akan diresmikan oleh DPR dalam revisi undang-undang Pemilu,” ujarnya.

Saat disinggung alasan wacana diberlakukan kembali pemilihan melalui legislatif adalah efisiensi angggaran, mengingat begitu fantastisnya anggaran yang harus dikeluarkan dalam menyelenggarakan pemilu (71,3 Triliun dalam Pemilu 2024).  Selain itu,  pemilihan melalui lembaga legislatif bisa mencegah money politik.

Baca Juga  FWK Kecam Penurunan Bendera Merah Putih di Banda Aceh

“Kita harus pahami dulu yang namanya biaya politik dalam demokrasi itu tidak bisa membandingkannya seperti kita mau belanja. Karena ukuran demokrasi bukan biaya dalam arti satu miliar, dua miliar, tiga miliar. Harga demokrasi adalah seberapa banyak aspirasi warga, artinya partisipasi yang lebih penting,” tegasnya.

Bivitri menekankan bahwa membangun demokrasi itu mamang akan selalu mahal. Mahalnya tidak dihitung dari nilai nominal rupiah yang harus digelontorkan, karena perinsip membangun demokrasi perhitungannya harus disandarkan pada pastisipasi masyarakat dalam mengontrol jalannya pemerintahan.

“Jalanan depan rumah kami rusak nih udah 5 tahun gak dibenerin. Di kota kami gelap gak ada lampu jalan sehingga rentan kejahatan. Kalau hal seperti ini tidak bisa disampaikan, tidak bisa dipenuhi oleh orang yang kita pilih, maka itu bukan demokrasi,” tegasnya.

High Cost

Harus dipahami bahwa biaya pemilihan kepala daerah ada yang bersifat formal dan informal. Anggaran formal seperti pengadaan logistik di KPU dan berbagai kebutuhan lainnya yang digunakan untuk kelancaran penyelenggaraan pemilu.

“Tapi yang mahal itu kan sebenarmya yang non formal.  Biaya silumannya uang sewa “perahu” gitu kan. Untuk dapat dukungan dari partai mana? dipasangkan demgan sispa?  Saya kira bukan rahasia, sudah banyak para mantan calon kepala daerah yang mengaku memang ya begitu praktiknya,” katanya.

Cost “Serangan Fajar” yang angkanya memang cukup fantastis juga menjadi bagian membengkaknya biaya pemilihan. Ini seakan warga dibiasakan melihat figur dari apa yang bisa mereka  didapatkan secara materi dari sosok tersebut, bukan disandarkan pada gagasannya dalam memajukan pemerintahan.

“Itu bikin biaya mahal. Kalo dikembalikan ke DPRD, dia akan meng-entertain anggota DPRD yang memilihnya. Biaya sama atau lebih mahal, tapi warga tidak dapat apa-apa. Karena calon kepala daerah akan menghamba pada parpol,” ujarnya.

Baca Juga  Perkuat Program MBG, BGN Gelar Rapat konsolidasi SPPG

Pilkada langsung memang ada kelemahannya dan kelemahan itu lah yang harus diperbaiki, ketimbang harus mundur ke-30 tahun yang lalu. Penegakan hukum yang abay terhadap berbagai kecurangan termasuk money politik dan juga keterlibatan penyelenggara, menjadi alasan mendasar pemilihan langsung tersebut terkesan high cost. Dibutuhkan kesungguhan dan komitmen yang kuat dalam melakukan perubahan.***

Berita Terkait

Ahmad Khozinudin: Gawat! UU Perampasan Aset Diekstensifikasi Menyasar Ke Semua Orang
Syukur Mandar: Ada Penjajah Yang Lebih Berbahaya dari Penjajah Yang Telah Diusir
FWK: Negara Jangan Jadikan Bank Alat Represif
FWK Kecam Penurunan Bendera Merah Putih di Banda Aceh
Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: FWK Ingatkan Agar Pemerintah Peka Terhadap Keresahan Masyarakat
Cacat Kelola Tingkat Dewa! Sebagian Besar Pemda Tidak Bisa Bayar Gaji ASN?
Diskusi FWK: Kesantunan Berbahasa Diperlukan dalam Berbangsa dan Bernegara
Kabinet Bayangan: Indonesia Darurat Korupsi Secara Struktural dan Sistemik

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 17:31 WIB

Rekayasa Jalan Dampak dari Proyek Pembangunan Underpass dan Jembatan Dibahas Forum LLAJ Cimahi

Selasa, 1 September 2026 - 08:55 WIB

Kisruh Ditubuh FKPPI KBB Berujung Lapor Polisi, Imron Minta Semua Pihak Bersikap Dewasa

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 21:19 WIB

Kasus Kredit BPR Cirebon Dilimpahkan ke PN Bandung, Jaksa Tunggu Jadwal Sidang

Jumat, 28 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Peringati HAN, Ngatiyana Kukuhkan Forum Anak Jati Mandiri Kota Cimahi

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:59 WIB

Cimahi Perangi Peredaran Narkoba Melalui Pawang Ronda

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:48 WIB

Tanggapi Keluhan WP, Samsat Cimareme Segera Perbaiki Toilet Rusak!

Rabu, 26 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Toilet Rusak Dikeluhkan Wajib Pajak, Samsat Cimareme Dinilai Abaikan Fasilitas Publik!

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 09:02 WIB

Ngatiyana Akui Kemacetan Bukan Kesalahan Petugas, Tapi Tanggung Jawab Penuh Wali Kota Cimahi

Berita Terbaru

Penemuan mayat. Foto: Ilustrasi

Kriminal

Mayat Wanita Dalam Kardus Hebohkan Warga Babakan Ciparay

Selasa, 1 Sep 2026 - 18:14 WIB